FKUI – UOEH Jepang Kerja Sama Tingkatkan Pengetahuan Tentang Manajemen Kesehatan dan Produktivitas Kerja

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan University of Occupational and Environmental Health (UOEH) Jepang pererat kerja sama dengan menggelar kegiatan Kuliah Tamu guna tingkatkan pengetahuan antara kedua institusi dalam bidang manajemen kesehatan dan produktivitas kerja.

Kuliah Tamu diselenggarakan oleh Program Studi Magister Kedokteran Kerja, Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas (IKK) FKUI pada Sabtu 6 Juli 2024 di Ruang Firman Lubis, Departemen IKK FKUI, Jl. Pegangsaan Timur No. 16, Jakarta Pusat.

Kuliah tamu menghadirkan pakar Health and Productivity Management (HPM) UOEH Jepang, Prof. Koji Mori, MD, PhD dan Tomohisa Nagata, MD, PhD yang merupakan konsultan dari Ministry of Economic, Trade, and Industry (METI), institusi pemerintah penyelenggara sertifikasi HPM di Jepang. Selain itu, narasumber lain dalam kuliah tamu ini adalah Guru Besar Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI, Prof. Dr. dr. Dewi S. Soemarko, MS, Sp.Ok, Subsp. PsiKO(K) yang turut memberikan kuliah tentang implementasi HPM di Indonesia.

Health and Productivity Management (HPM) adalah suatu pendekatan manajemen untuk memastikan pekerja tetap sehat dan produktif dalam bekerja. Upaya ini mulai dikenalkan di Jepang pada tahun 2014, dan diwujudkan dalam kegiatan sertifikasi perusahaan pada tahun 2016. Tujuan kegiatan HPM untuk memastikan pekerja dapat tetap sehat walaupun mereka harus bekerja di usia lanjut.

Menurut Prof. Koji Mori, pemerintah Jepang berkehendak adanya suatu inisiatif dari sisi promotif dan preventif bidang kesehatan di tempat kerja yang dapat bermanfaat untuk seluruh warga negara. “Inisiatif ini dirasa tepat mengingat hasil dari upaya promotif dan preventifnya dapat diukur dalam ukuran produktivitas di tempat kerja yang memberikan manfaat luas tidak hanya untuk individu tetapi juga perusahaan,” ujarnya.

Sementara itu, Tomohisa Nagata menjelaskan bahwa pada tahun 2023, lebih dari 15.000 perusahaan berbagai skala mengikuti sertifikasi ini di Jepang. Dari jumlah tersebut telah terpilih 500 perusahaan skala besar (White 500) dan 500 perusahaan skala kecil dan menengah (Bright 500) dengan skor terbaik. Pada kelompok White 500, terdapat 49 perusahaan yang telah terpilih masuk dalam kelompok ini selama 9 periode berturut-turut.

“Hal ini tentunya juga dapat meningkatkan brand image dari perusahaan-perusahaan tersebut, mengingat HPM ini sejalan dengan upaya ESG (environment, society, governance) yang menjadi penilaian sustainability perusahaan,” kata Tomohisa Nagata.

Sementara itu, dalam presentasinya Prof. Dewi S. Soemarko mengatakan, pemerintah Indonesia saat ini gencar menggaungkan upaya untuk mencapai Indonesia Emas 2045, pada tahun tersebut diproyeksikan Indonesia akan mengalami bonus demografi yang sudah akan dimulai pada tahun 2030.

“Kondisi ini menuntut adanya tenaga kerja yang sehat dan produktif. Tentunya pada kondisi yang lanjut, Indonesia akan mengalami masalah yang serupa dengan Jepang yakni aging workers. Dengan gambaran tersebut, sangat layak apabila Indonesia mulai mengadopsi upaya serupa untuk memacu kegiatan promotif dan preventif kesehatan di tempat kerja,” ucap Prof. Dewi S. Soemarko.

Kegiatan kuliah tamu dihadiri oleh lebih dari 200 orang baik yang hadir secara luring maupun daring. Kegiatan ini berhasil memperkenalkan Program HPM kepada para peserta yang merupakan mahasiswa dan alumni dari Program Studi Magister Kedokteran Kerja dan Program Pendidikan Dokter Spesialis Okupasi, serta dokter perusahaan yang berminat terhadap topik kuliah tamu.

Melalui kegiatan yang berlangsung diharapkan para peserta mendapatkan informasi tentang program promotif dan preventif yang dapat mendukung Program HPM di Jepang dan rencana inisiasi kegiatan HPM di Indonesia yang telah disosialisasikan di Jakarta, Semarang, Surabaya, dan Bandung.

Kerja sama antara FKUI dengan UOEH juga dijalankan melalui program inbound course plant survey dimana FKUI menerima residen dari UOEH untuk pembelajaran plant survei yang menilai cara mengidentifikasi bahaya potensial pada pekerja baik pada sektor formal maupun informal di Indonesia. Kegiatan ini berlangsung di Jogjakarta pada tanggal 4 Juli 2024, di Bandung tanggal 8 Juli 2024 dan Jakarta pada tanggal 9 Juli 2024. Mereka diberikan pengalaman untuk mengobservasi bagaimana cara kerja di sektor informal pengolahan batik, pengolahan pandai besi, serta sektor formal manufaktur alat-alat berat.

Tidak hanya mengobservasi, di beberapa tempat mereka juga akan diberikan kesempatan untuk mengalami sendiri bagaimana cara mengolah batik sehingga pembelajaran ini memberikan suatu pengalaman yang sangat mendalam selain keterampilan untuk melakukan identifikasi hazard di tempat kerja dalam situasi yang nyata atau langsung untuk pekerja di Indonesia.

(Humas FKUI)