Menjadi Penyakit ‘Populer’ di Masyarakat Saat Ini, Seberapa Berbahayakah GERD?

Akhir-akhir ini masyarakat kian akrab dengan istilah GERD, baik itu pada dewasa maupun bayi. Sayangnya tidak semua informasi yang beredar seputar GERD tepat. Salah satunya adalah informasi yang menyebutkan bahwa penyakit GERD dapat menyebabkan kematian mendadak.

Guru Besar bidang Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. dr. Badriul Hegar, Ph.D, Sp.A(K) menjelaskan bahwa Refluks Gastroesofageal (GER) adalah aliran balik isi lambung ke dalam kerongkongan. Isi refluks yang berlanjut masuk ke dalam mulut dan dikeluarkan dari mulut disebut sebagai regurgitasi (gumoh). Menurutnya, kondisi ini merupakan hal yang normal dan dapat terjadi pada 60-80% bayi berusia 2 bulan, kemudian menurun sesuai bertambahnya usia, menjadi 50% pada usia 6 bulan dan sekitar 5% pada usia 12 bulan.

Refluks yang mengandung asam lambung yang terlalu sering dan lama di dalam kerongkongan, dapat menyebabkan kerusakan dinding kerongkongan yang disebut sebagai penyakit GER atau lebih sering dikenal dengan GERD.

“Keadaan ini hanya terjadi pada sekitar 3-5% bayi saja, karena kerongkongan mempunyai mekanisme pertahanan luar biasa yang diciptakan oleh Allah SWT,” tutur Prof. Badriul Hegar yang juga merupakan Direktur Indonesia Medical Education and Research Institute (IMERI) FKUI.

Beliau kemudian menjelaskan bahwa kita dapat mencurigai GERD bila bayi memperlihatkan gejala alarm GERD seperti berat badan yang tidak naik, gumoh disertai darah, atau bayi sering melengkungkan punggungnya ke belakang. Menurutnya, bayi yang menangis berlebihan, rewel, atau iritabel tidak boleh dianggap begitu saja sebagai GERD, apalagi langsung mengobatinya, karena gejala tersebut juga didapatkan pada bayi sehat.

Prof. Badriul Hegar berpendapat bahwa adanya GER pada bayi bukanlah alasan untuk mengurangi, apalagi menghentikan pemberian ASI, karena hal tersebut tidak terbukti dapat mengurangi kejadian GER atau regurgitasi. Justru teknik pemberian minum yang kurang tepat atau pemberian minum berlebihan (overfeeding) yang dapat menyebabkan regurgitasi berlebihan.

“Pada bayi yang telah mendapat susu formula, pemberian thickening milk (susu yang ditebalkan) dapat mengurangi frekuensi dan volume berlebihan dari regurgitasi secara signifikan. Begitu pula posisi bayi terlentang dengan sudut 45-60 derajat dengan alas tidur setelah minum, dapat mengurangi GER dan regurgitasi,” jelas Prof. Badriul Hegar pada Seminar Umum Kesehatan yang berlangsung di Auditorium Lt. 3 Gedung IMERI FKUI, Jakarta, Rabu 3 Juli 2024.

Sementara itu, pembicara lain Dr. dr. Kaka Renaldi, Sp.PD-KGEH dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI – Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) mengatakan bahwa sangat penting untuk melakukan diagnosis yang tepat dan tatalaksana yang disesuaikan dengan kondisi spesifik pada pasien GERD, baik itu pasien anak-anak maupun dewasa.

“GERD bukanlah kondisi yang dapat menyebabkan kematian secara langsung, namun GERD yang tidak diobati dalam jangka lama bisa menyebabkan komplikasi berbahaya seperti kanker esofagus. Selain itu, bisa jadi ada kondisi lain yang luput dari diagnosis seperti penyakit jantung. Oleh karena itu, perlu konsultasi ke dokter untuk memperoleh diagnosis yang tepat,” tutur Dr. dr. Kaka Renaldi.

Gejala GERD pada orang dewasa dapat berupa dada terasa panas seperti terbakar, mulut terasa pahit, nyeri dada, atau batuk kronis. Menurut dr. Kaka, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya GERD seperti, konsumsi alkohol, merokok, obesitas, stres psikologis, pola tidur yang buruk, makan porsi besar, dan konsumsi makanan berlemak.

“Terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan bagi seseorang yang mengalami GERD, yang utamanya adalah perubahan gaya hidup disertai dengan terapi obat. Faktor risiko seperti merokok dan alkohol perlu dihentikan atau dikurangi. Kita dapat membuat food diary untuk mengontrol pola diet dan berolahraga untuk mengurangi berat badan jika berlebih. Posisi tidur bagi penderita GERD disarankan untuk miring ke arah kiri supaya mencegah aliran asam lambung naik ke kerongkongan. Jangan langsung tidur setelah makan, usahakan beri jarak setidaknya 3 jam dari waktu makan ke berbaring,” jelas Dr. dr. Kaka Renaldi.

Seminar umum kesehatan anak dan dewasa dengan judul “Memahami Gastroesophageal Reflux Disease: Dari Gejala hingga Pengobatan” ini dimoderatori oleh Dr. Rani Wardani Hakim, S.Si, Apt, M.Biomed dari Klaster Drug Development Research Center IMERI FKUI. Seminar diselenggarakan dalam rangka perayaan Hari Ulang Tahun ke-7 IMERI FKUI.

Dekan FKUI Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, melalui sambutannya pada puncak acara perayaan HUT ke-7 IMERI FKUI mengatakan, “Melalui momentum Hari Ulang Tahun yang ke-7 ini, IMERI FKUI menunjukkan perannya dalam turut menyehatkan dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Kegiatan seminar kesehatan untuk umum yang diadakan ini merupakan bentuk nyata peran IMERI FKUI yang tidak hanya melakukan riset dan pendidikan secara internal saja, tetapi juga memberikan dampak langsung ke masyarakat,” tutur Prof. Ari Fahrial Syam.

(Humas FKUI)