Info FKUI

Peran Peradangan Usus pada Anak Pendek

#LiputanMedia

Anak pendek masih menjadi masalah gizi dan kesehatan di Indonesia. Berbagai faktor risiko menyebabkannya, termasuk gangguan keseimbangan mikrobiota saluran cerna yang berhubungan dengan peradangan usus. Hasil penelitian menunjukkan, peradangan usus menurunkan panjang badan pada anak pendek.
 
Penelitian ini berjudul ”Peran Inflamasi Usus pada Anak Usia di Bawah Dua Tahun terhadap Kejadian Pendek”. Penelitian ini menjadi syarat gelar doktor ilmu biomedik Universitas Indonesia pada 17 Juni 2019.
 
Pendek (stunting) adalah status gizi anak usia di bawah lima tahun yang berada di bawah angka -2 standar deviasi pada standar antropometri Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2005. Di dunia, diperkirakan terdapat 165 juta anak balita pendek. Angka prevalensi pendek di dunia pada tahun 2010 sebesar 40 persen.
 
Hasil Riset Kesehatan Dasar menginformasikan bahwa prevalensi anak usia di bawah lima tahun pendek di Indonesia pernah turun, yaitu dari 37,29 persen pada tahun 2013 menjadi 30,8 persen pada tahun 2018. Menurut kategori WHO, prevalensi anak usia di bawah lima tahun pendek di Indonesia termasuk dalam kategori prevalensi tinggi. Bahkan, Indonesia bagian timur sudah masuk dalam kategori sangat tinggi dengan prevalensi 40 persen. Prevalensi pendek pada anak usia di bawah dua tahun di Indonesia pada tahun 2018 sebesar 29,9 persen, sedangkan di Jakarta sebesar 27,2 persen.
 
Kondisi pendek pada awal kehidupan berhubungan dengan peningkatan morbiditas atau angka kesakitan dan mortalitas atau angka kematian serta dapat mengurangi kapasitas fisik dan peningkatan risiko penyakit metabolik pada usia dewasa.
 
Faktor risiko pendek bermacam-macam. Dari beberapa penelitian diketahui bahwa faktor risiko pendek di antaranya status sosial ekonomi rendah, tinggi ibu yang pendek, kunjungan perawatan setelah melahirkan yang jarang, berat badan lahir rendah, tidak memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif, dan pemberian makanan pendamping ASI yang tidak sesuai (Najahah I, dkk, 2013).
 
Faktor risiko lain adalah riwayat infeksi saluran napas atas dan asupan protein kurang (Anshori AH, dkk, 2012) serta lahir prematur dan panjang badan lahir rendah (Kusuma KE, 2013). Faktor hormon tiroid juga memainkan peran penting terhadap kejadian anak pendek (Macchia PE, dkk, 1998). Infeksi parasit usus dapat mengganggu tumbuh kembang anak dan menurunkan produktivitas anak. Hal itu karena cacing usus mengisap zat gizi yang membuat anak kekurangan zat gizi, anemia, berat badan menurun, dan pertumbuhannya terhambat (Fransisca RO, dkk, 2012).
 
Ketidaknormalan pada saluran pencernaan dapat menjadi diagnosis dari beberapa kondisi, seperti intoleransi laktosa, sindrom iritasi usus besar (irritable bowel syndrome), penyakit seliak, penyakit radang usus (inflammatory bowel disease), dan pertumbuhan bakteri yang berlebihan di usus kecil (small intestine bacterial overgrowth/SIBO). Penelitian potong lintang pada 90 anak dengan usia rata-rata 24,6 bulan di Bangladesh tentang SIBO mendapatkan hasil bahwa SIBO berkorelasi dengan pendek, sanitasi yang buruk, dan penanda (biomarker) peradangan usus, yaitu protein Reg 1B dan calprotectin pada feses atau tinja (Donowitz JR, dkk, 2016).
 
Studi terhadap 222 anak di Bangladesh dan 97 anak di Peru melaporkan bahwa protein Reg 1B dalam tinja dapat memprediksi nilai Z-skor panjang badan menurut umur (PB/U) untuk anak usia di bawah 24 bulan. Studi itu menyimpulkan bahwa protein Reg 1B yang diambil pada tinja anak mulai usia tiga bulan dapat dijadikan prediktor insiden anak pendek usia dua tahun serta dapat dijadikan penanda non-invasif gizi buruk serta mendukung peran enteropati lingkungan dalam patogenesis pendek (Peterson KM, dkk, 2013).
 
Namun, studi yang membahas mekanisme yang berperan dalam kejadian anak pendek dihubungkan dengan keadaan usus belum banyak. Hal itu yang mendorong peneliti untuk menelitinya. Tujuan penelitian adalah memahami peran inflamasi atau peradangan usus pada anak di bawah usia dua tahun terhadap kejadian pendek.
 
Subyek penelitian ini adalah anak berusia enam bulan sampai 23 bulan di Kelurahan Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur. Pendek ditetapkan berdasarkan nilai Z-skor panjang badan menurut umur (PB/U). Pengukuran panjang dan tinggi badan menggunakan infantometer dan microtoise. Kadar hormon tiroid (thyroid stimulating hormone/TSH), Reg 1B, dan xilosa menggunakan metode ELISA. Kadar xilosa dalam darah merupakan indikator pengukuran malabsorpsi usus. Infeksi parasit usus diukur menggunakan parasit yang terdapat dalam tinja.
 
Hasilnya, pada penapisan 269 anak didapatkan 20,4 persen anak pendek yang terdiri atas 55,8 persen laki-laki, 55,5 persen kelompok umur 12-23 bulan, dan 47,3 persen memiliki kedua orangtua normal. Profil subyek penelitian adalah 61,1 persen laki-laki, 88,9 persen pada kelompok umur 12-23 bulan, dan memiliki kadar TSH normal. Persentase rata-rata asupan energi dan zat gizi makro anak pendek lebih rendah daripada anak normal, tetapi tidak berbeda secara statistik.
 
Pada subyek penelitian tidak ditemukan cacing dan hanya satu anak normal yang positif parasit Blastocystis hominis. Dalam pemeriksaan Reg 1B tidak ditemukan perbedaan antara anak pendek dan normal. Akan tetapi, pada subyek penelitian yang kadar Reg 1B meningkat, sebagian besar terjadi penurunan nilai Z-skor PB/U dan berbeda bermakna secara statistik. Pada pemeriksaan kadar xilosa darah tidak ditemukan perbedaan antara anak pendek dan normal.
 
Dalam analisis korelasi tidak diperoleh korelasi infeksi parasit usus dengan inflamasi usus dan malabsorbsi, tetapi ada korelasi bermakna antara inflamasi usus dengan malabsorbsi. Peneliti berkesimpulan, inflamasi usus terjadi pada anak pendek dan normal serta secara signifikan menurunkan nilai Z-skor PB/U dari kedua anak tersebut dan berkorelasi secara bermakna dengan malabsorbsi.
 
Dari hasil penelitian ini, peneliti menyarankan orangtua yang memiliki anak di bawah dua tahun memberikan asupan makanan yang adekuat, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, memberikan ASI secara eksklusif dan optimal, serta tidak memberikan makanan pendamping ASI secara dini. Hal itu karena akan mengganggu keseimbangan mikrobiota usus dan menyebabkan peradangan usus.
 
Praktisi gizi di rumah sakit perlu diberikan sosialisasi mengenai perkembangan parameter biokimia terkait kesehatan usus, seperti Reg 1B dalam tinja dan xilosa dalam darah. Pengetahuan itu memperkaya wawasan dalam pembuatan diagnosis gizi dan melakukan komunikasi dengan dokter penanggung jawab pasien.
 
Penulis: Dr Syarief Darmawan, MKes lahir di Jakarta, 2 Oktober 1976. Sebelum menyelesaikan doktor ilmu biomedik di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), ia menyelesaikan studi D-3 Akademi Gizi Departemen Kesehatan tahun 1998, Diploma 4 Gizi FKUI tahun 2000, S-2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Universitas Gadjah Mada tahun 2007. Ia menjadi dosen Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Jakarta II sejak tahun 2004 hingga sekarang.