Info FKUIUncategorized

Penyebab Persalinan Macet atau Distosia, Kondisi yang Buat Sulit Melahirkan

#Liputanmedia

Jakarta – Kesulitan melahirkan seringkali dialami Bunda tanpa tahu penyebabnya. Mulai dari berat janin yang terlalu besar, hingga bukaan macet atau tidak bertambah melebihi waktu yang seharusnya.
Dalam istilah medis, kesulitan melahirkan disebut dengan distosia. Beberapa faktor bisa menyebabkan risiko distosia lebih tinggi dialami para Bunda. Tak mengenal usia, karena kesulitan melahirkan pun bisa dialami Bunda di usia muda atau yang sudah pernah menjalani persalinan sebelumnya.
Bunda dengan pengalaman distosia harus lebih waspada di proses persalinan selanjutnya. Tak hanya itu saja, Bunda juga berkemungkinan mengalami risiko gangguan reproduksi di usia lanjut. Nah, untuk menanggulani kita akan bahas lebih lengkap mengenai penyebab, risiko, serta cara mencegah distosia.
Apa itu distosia?
Distosia adalah gangguan persalinan, yang menyebabkan ibu sulit melahirkan. Jika seorang ibu mengalami distosia, waktu persalinannya akan panjang dan bahkan, ada yang tidak mengalami kemajuan sama sekali.
Kondisi ini tak hanya berdampak pada janin melainkan ibu juga. Normalnya, jika ibu hamil sudah pecah ketuban maka dalam waktu enam jam harus melahirkan, jika tidak maka bisa terjadi infeksi.
Dokter akan memantau pembukaan jalan lahir. Perlu diingat, bahwa pembukaan 1 ke 3 bisa menghabiskan waktu 8 jam atau lebih. Sementara pada pembukaan ke-3 hingga seterusnya, harus dipantau perkembangannya setiap jamnya. Hitungan kasarnya, setiap 1 jam setidaknya harus ada progress pembukaan 1 cm.
Kenali tiga penyebab utama distosia
Jika tidak ada progres, maka kemungkinan ibu hamil mengalami distosia. Penyebab distosia adalah dengan melihat hubungan 3P yakni Power (tenaga), Passage (jalan lahir) dan Passengger (bayi).
1. Power (Tenaga)
Power adalah tenaga ibu mendorong bayi keluar. Jika tenaga ibu kuat, maka persalinan lancar. Sebaliknya, jika tenaga ibu tidak ada, maka akan sulit melahirkan.
2. Passage (Jalan Lahir)
Passage adalah kondisi jalan lahir yang terdiri dari mulut rahim dan juga ukuran panggul ibu. Apabila kondisi panggul ibu tidak baik, dan pembukaan tidak lengkap maka bisa mengalami distosia.
3. Passenger (Bayi)
Passenger adalah bayi. Dalam persalinan, ukuran bayi sangat penting untuk diperhatikan. Ukuran bayi yang besar (di atas 4 kg) bisa menyebabkan ibu mengalami distosia saat keluarnya kepala dan macet saat melahirkan bahu. Batas atas berat bayi saat dilahirkan adalah 3,5 kg atau 3.500 gram.
Jadi, kalau 3P ini baik, dan didukung dengan tenaga ibu ada untuk mengejan, kondisi panggul ibu adekuat, dan ukuran bayinya 2500-3500 g maka persalinan biasanya akan berjalan lancer dan mudah dilahirkan.
Kondisi lain yang berhubungan dengan 3P:
– Malposisi dan Malpresentasi
Persalinan normal terjadi ketika bagian kepala janin terletak di bagian bawah panggul. Kelainan posisi atau malposisi dapat menyebabkan distosia contohnya karena janin letak lintang yang dapat terjadi pada bayi besar, terlilit tali pusat, dan kelainan panggul.
Kelainan bagian terbawah janin atau malpresentasi terjadi pada bayi sungsang. Bayi sungsang atau bagian terbawah janin adalah bokong dapat menyebabkan persalinan tiga kali lebih sulit dari persalinan dengan posisi bayi normal. Bayi sungsang dapat terjadi pada keadaan posisi plasenta berada di bawah (dekat jalan lahir), bayi berukuran besar, dan adanya tumor atau kista.
– Diabetes Gestasional
Ibu yang mengalami diabetes gestasional bisa memiliki bayi yang berukuran besar atau makrosomi. Bayi makrosomi biasanya memiliki bobot di atas 4 kg. Kalau makrosomi maka dianjurkan operasi karena bisa mengalami distosia bahu.
– Usia terlalu muda dan tua
Usia terlalu muda bisa menjadi penyebab persalinan menjadi sulit. Apabila usia ibu belum terlalu matang, belum siap juga bisa menyebabkan distosia.
Begitu juga saat usia Bunda semakin tua, maka kemungkinan semakin lemas tenaganya, dan otot dasar panggulnya kendur, dibandingkan ibu yang melahirkan di usia muda (matang).
Tindakan saat Bunda mengalami distosia
Tindakan yang dilakukan biasanya disesuaikan dengan penyebab, dan ditinjau lagi 3P tadi. Berikut penjelasan lengkapnya:
Ukuran bayi besar
Apabila ukuran bayi besar maka tindakan yang akan dilakukan adalah caesar. Operasi caesar adalah jalan satu-satunya agar bayi dan ibu selamat apabila mengalami distosia.
CPD
Cephalopelvic disproportion (CPD) merupakan komplikasi kehamilan dimana terdapat ketidaksesuaian ukuran antara panggul ibu dengan kepala janin. Tindakan yang bisa dilakukan menggunakan vakum.
Tenaga ibu kurang
Jika tenaga ibu kurang, maka diberikan obat penambah kontraksi yakni oksitosin. Dengan begitu akan ada rangsangan tenaga untuk mendorong bayi bisa keluar dari jalan lahir.
Kelainan di panggul
Apabila kondisi panggul tidak imbang, ada kelainan di panggul ibu. Kemudian jalan lahir juga sempit, maka tindakannya juga harus melalui operasi caesar.
Bayi sungsang
Bayi sungsang dalam kandungan dan bayi itu adalah anak pertama maka disarankan untuk operasi caesar. Ini karena bayi sungsang biasanya yang lahir dahulu adalah bagian bokongnya kemudian kepala. Apabila kepala bayi masih berada di dalam jalan lahir lebih dari 5 menit, dikhawatirkan bayi bisa meninggal.
Jika bayi sungsang ditemui di trimester kedua, maka bayi masih bisa diupayakan untuk dapat diputar. Namun, ada risiko bayinya mati di dalam kandungan dan sekarang metode itu sudah ditinggalkan. Ibu hamil biasanya diminta senam hamil dengan gerakan nungging.
Dampak distosia untuk Bunda dan bayi
Bahu bayi patah
Ukuran bayi yang terlalu besar bisa menyebabkan distosia bahu. Kondisi ini biasanya kepala bayi lahir tapi bahu tidak lahir. Untuk bisa mengeluarkan bayi, maka bahu bayi akan dipatahkan. Untuk itu, sebisa mungkin hal ini dicegah.
Kematian bayi
Distosia juga bisa menyebabkan bayi mati dalam kandungan. Apabila kondisi bayi, terutama bagian kepala sudah keluar, dalam durasi 5-10 menit tidak segera dikeluarkan maka bayi bisa mati.
Dinding rahim robek
Dinding rahim robek atau ruptur uteri, bisa menjadi salah satu komplikasi dari distosia. Dinding rahim yang robek terjadi karena adanya tindakan dalam usaha pervaginal untuk melahirkan janin pada uterus yang segmen bawahnya telah teregang karena adanya distosia.
Jika dibiarkan, maka ibu akan mengalami perdarahan hebat. Darah akan masuk ke dalam perut, ini bisa menyebabkan bayi meninggal dalam kandungan, dan bisa menyebabkan kematian pada ibu. Namun, kemajuan dalam bidang kebidanan, dinding rahim robek bisa dicegah.
Fistula
Distosia bisa sebabkan ibu mengalami fistula. Kondisi ketika kencing keluar terus karena kandung kemihnya bolong. Ini diakibatkan tekanan akibat bayi besar, ibu yang terlalu banyak mengejan selama persalinan.
Pencegahan distosia
Distosia sebenarnya bisa dicegah sejak kehamilan. Itu sebabnya, sangat penting melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan agar bisa mengontrol berat badan janin secar rutin. Serta diatur beberapa hal berikut ini:
1.Makanan ibu hamil
Bayi bisa berukuran besar itu biasanya disebabkan oleh diet makanan ibu selama kehamilan. Makan ibu hamil yang terlalu banyak, melebihi keutuhan per hari bisa berakibatnya bayinya berukuran besar. Apabila usia kehamilan masih muda, namun bayi berukuran besar maka makanan dibatasi.
Makanan yang harus dibatasi biasanya adalah karbohidrat. Kebanyakan ibu hamil suka nyamil yang tinggi karbohidrat. Untuk mencegah kenaikan berat badan bayi yang besar, jika ibu hamil ingin camilan maka yang diperbolehkan hanya buah.
Jika ibu hamil ingin minum susu, pilih susu kehamilan yang rendah gula. Intinya, pilih makanan yang tidak terlalu tinggi karbohidrat untuk mencegah bayi berukuran besar. Seperti misalnya mengatur asupan nasi, roti dan tepung-tepungan, serta snack dari kentang.
Kemudian di trimester tiga, gizi ibu hamil juga diperiksa kembali. Ibu hamil harus memiliki gizi yang baik, TKTP (tinggi kalori tinggi protein) karena salah satu gizi yaitu protein, bisa membantu ibu memiliki kekuatan untuk mendorong bayi lahir.
2. Istirahat cukup sebelum persalinan
Kekuatan ibu saat mengejan bisa dipengaruhi oleh kondisi fisik ibu sebelum melahirkan. Misalnya, ibu kelelahan karena tidak istirahat yang cukup.
Itu pentingnya, mempersiapkan fisik jelang melahirkan. Bisa didukung dengan olahraga maupun dengan istirahat yang cukup.
3. Rutin kontrol kehamilan
Kontrol hamil itu penting, dari trimester pertama, kedua, dan ketiga. Selama kontrol kehamilan, ibu hamil akan diukur berat badannya, tinggi fundus uterinya, dan berat bayinya.
Sebagai panduan, berat bayi normal di 28 minggu sekitar 1.000 gram. Sementara, berat bayi normal di usia 36 minggu itu antara 2.500 gram hingga 3.000 gram (2,5 kg-3 kg). Berat bayi di usia 38 minggu itu antara 3.200 gram hingga 3.500 gram.
Berat bayi mulai dipantau jika usia kehamilan mencapai 34 minggu. Tiga hal tadi diukur apakah sesuai dengan usia kehamilan atau tidak. Apabila tidak rajin kontrol, dan bayi dalam kondisi besar, maka kemungkinan akan operasi caesar.
4. Kontrol diabetes
Ibu hamil yang mengalami diabetes dan tidak dikontrol, maka bisa menyebabkan bayi berukuran besar. Untuk itu, jika ibu hamil mengalami diabetes atau memiliki riwayat diabetes maka harus dikontrol agar berat badan bayi normal.
5. Senam kehamilan
Menjelang persalinan, ibu hamil sudah bisa melakukan senam kehamilan di usia 34 minggu. Boleh melakukan senam atau yoga yang bisa melancarkan kehamilan dan bisa membalikkan posisi bayi yang sungsang.
6. Pijat perineum
Pijat perineum juga bisa menjadi salah satu pencegahan distosia. Di usia 36 minggu, ibu hamil sudah boleh melakukan pijat perineum. Ibu hamil bisa melakukan pijat perineum tiga kali dalam sehari dengan durasi 5 menit.
7. Periksa ke dokter mata
Ibu hamil yang memiliki minus tinggi, minus di atas 5 maka lebih baik diperiksakan dahulu ke dokter spesialis mata. Karena, risikonya jika mengejan retinanya bisa lepas (abrasio retina). Jadi periksakan dahulu ke dokter dari usia 36 minggu untuk menghindari risiko kebutaan.
Dengan demikian, apabila ibu sudah mengalami distosia di kehamilan sebelumnya maka disarankan untuk rutin kontrol kehamilan. Dengan rutin kehamilan, risiko distosia bisa berkurang atau tidak terjadi lagi.
Dr. dr. Suskhan Djusad, Sp.OG(K)., merupakan dokter Spesialis Obstetri Ginekologi, dan Konsultan Uroginekologi dan Rekonstruksi Vagina, Departemen Medik Kebidanan dan Penyakit Kandungan di RSUPN Cipto Mangunkusumo dan RS Pantai Indah Kapuk, Jakarta.
Beliau sudah lebih 20 tahun berpraktik sebagai dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan di beberapa rumah sakit.
Saat ini, Suskhan juga menjabat sebagai Kepala Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSCM.
Serta Dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).