Info FKUIUncategorized

Nyeri Ulu Hati Tidak Selalu Maag, Ini Penyakit Lain yang Harus Diwaspadai!

#LiputanMedia

BELAKANGAN ini ulu hati Anda sering nyeri? Anda beranggapan itu penyakit maag padahal Anda tidak punya masalah lambung sebelumnya? Awas, bisa saja itu penyakit kandung empedu.

Dijelaskan Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, masalah kandung empedu semakin marak terjadi di masyarakat. Gejala yang paling mudah dikenali dari masalah ini adalah nyeri di ulu hati hingga perut.

Nyeri perut sendiri adalah suatu keadaan yang sering ditemukan dan mengantarkan pasien datang ke rumah sakit, baik di poliklinik mau pun gawat darurat rumah sakit.

“Pasien yang datang ke Poliklinik Penyakit Dalam 30 persen karena nyeri perut dan 50 hingga 60 persen datang ke konsultan penyakit lambung dan pencernaan,” papar dr Ari pada Okezone, Senin (20/1/2020).

Nyeri perut yang terjadi bisa tiba-tiba atau kronis. Nyeri perut berhubungan dengan masalah lokal atau hanya di organ yang bermasalah. “Nyeri perut di ulu hati tidak selalu berasal dari lambung atau maag, bisa berasal dari pancreas, kandung empedu, liver, atau usus dua belas jari,” sambungnya.

Bahkan, dia memaparkan lebih lanjut, nyeri perut di ulu hati juga bisa berhubungan dengan serangan jantung dalam hal ini serangan jantung bagian bawah (infark miokard inferior).

Dalam hal ini, dr Ari coba fokus ke nyeri ulu hati karena masalah kandung kemih. Menurutnya, masalah ini bisa muncul karena adanya peradangan pada kandung empedu baik berlangsung akut maupun kronis.

Nyeri ulu hati karena masalah di kandung empedu bisa juga terjadi karena adanya batu pada kandung empedu. Ya, jika dianalisa lebih lanjut batu kandung empedu terdiri dari batu kolesterol dan batu pigmen. Nyeri karena adanya batu kandung empedu berlangsung beberapa saat dan berulang (kolik bilier), biasanya nyeri tersebut dapat menjalar ke punggung belakang.”Untuk mengetahui penyebab dari nyeri ulu hati tersebut perlu dilakukan USG abdomen. Melalui pemeriksaan USG abdomen dapat diketahui apakah ada peradangan baik akut maupun kronis pada kandung empedu tersebut,” saran dr Ari. Selain itu, pasien direkomendasikan untuk USG untuk mengidentifikasi apakah adanya batu pada kandung empedu atau tidak.

Pemeriksaan USG abdomen juga dapat mengevaluasi saluran empedu dan bisa mengidentifikasi adanya pelebaran saluran empedu. Sumbatan bisa terjadi jika batu yang ada di kandung empedu menyumbat pada saluran empedu tersebut.

“Data yang kami punya, 20 persen pasien dengan keluhan nyeri ulu hati atau nyeri perut disebabkan karena gangguan pada kandung empedunya, baik berupa batu di kandung empedu atau peradangan pada kandung empedu itu sendiri,” terangnya.

Kalau dilihat dari usia, 20 persen kasus yang mengalami gangguan pada kandung empedu tersebut lebih dari 80 persen berumur di tas 40 tahun dan tidak ada yang berumur di bawah 30 tahun.

Peradangan pada kandung empedu (kholesistitis) yang berlangsung tiba-tiba atau akut bisa ringan dan bisa berat. Pada kondisi yang berat, infeksi bisa saja selain mengenai kandung empedu juga bisa mengenai pancreas. Bahkan bisa terjadi infeksi luas dan sistemik yang dapat membahayakan jiwa. Pasien dengan peradangan kandung empedu akut perlu dirawat di rumah sakit dan perlu mendapat antibiotika sistemik.

Kandung empedu yang bermasalah apalagi ada batu di dalamnya biasanya akan dilakukan pengangkatan batu (kolesistektomi). Pada kondisi yang ringan dan dengan batu kandung empedu tanpa keluhan sama sekali, biasanya tidak perlu diatasi dengan operasi.

Pengobatan pada batu kandung empedu yang tunggal dan kecil (diameter kurang dari 1,5 cm) cukup dengan diet dan obat-obatan. Obat-obatan yang diberikan yaitu obat yang bekerja melarutkan batu kolesterol yaitu ursodeoxycholic acid (UDCA). Obat ini biasanya diberikan selama 3 bulan.

“Pada kasus yang memang memerlukan operasi, saat ini sebagian besar rumah sakit juga telah menerapkan teknik laparaskopi untuk pengangkatan kandung empedu tersebut,” ungkap dr Ari. “Melalui teknik ini, masa rawat manjadi pendek dan komplikasi paska operasi menjadi minimal”.

Kenapa seseorang bisa terkena batu empedu?

Kasus penyakit batu empedu lebih banyak dialami perempuan dibanding laki-laki. Tidak hanya itu, mereka yang berisiko masalah ini adalah orang berusia di atas 40 tahun.

Di Amerika Serikat, sambung dr Ari, 25 persen perempuan berusia 60 tahun mengalami masalah batu empedu dan ketika mereka berusia di atas 70 tahun, masalah ini meningkat menjadi 50 persen penderitanya.

Tidak hanya jenis kelamin dan usia, masalah ini juga berisiko untuk mereka yang obesitas, diabetes mellitus, pasien dengan sindrom metabolik, kadar kolesterol HDL (kolesterol baik) yang rendah, trigliserida yang tinggi, tekanan darah tinggi, dan kadar gula tubuh yang tinggi.

Selain itu, riwayat keluarga dengan kandung empedu, diet tinggi lemak dan tinggi kolesterol serta rendah serat juga berisiko masalah itu. Belum selesia, mereka yang mengalami penurunan berat badan ekstrem pun berisiko terbentuk batu di dalam kantung empedu.

“Bagi pasien yang sudah dioperasi kandung empedunya juga tetap harus menjaga makan karena bisa saja pasir dan batu pada saluran empedu terbentuk, walau kandung empedunya sudah diangkat,” pungkasnya.

Sumber berita: https://lifestyle.okezone.com/…/nyeri-ulu-hati-tidak-selalu…