Tahukan Anda, Memahami Lansia Dapat Menciptakan Terwujudnya Keluarga Bahagia, Kuat dan Sejahtera

#Liputanmedia

JAKARTA -Peningkatan kualitas hidup para lansia menjadi isu utama dalam peringatan Hari Keluarga Nasional yang ke-27. Hal tersebut sebagaimana terungkap dalam webinar yang diadakan oleh Direktorat Lansia, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada Rabu, (15/07).
Dalam sambutan sebagai pengantar webinar Deputy Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN Dr. dr, M. Yani, M.Kes., PKK mengatakan bahwa Penduduk lansia di Indonesia dari tahun ke tahun terus bertambah. Sesuai data BPS 2019, penduduk lansia di Indonesia sebesar 25,64 juta jiwa (9,60 persen) dari populasi penduduk. Namun, jumlah yang besar tersebut tentunya akan menjadi persoalan bagi bangsa ini apabila kualitas hidup para lansia rendah.
“Dari data yang kita peroleh, para lansia tersebut merupakan lansia yang memiliki tingkat pendidikan rendah, ekonomi dan kesehatan yang yang tidak menggembirakan, ditambah lagi dengan hubungan sosial dan peran pengambilan keputusan yang menurun di tengah keluarga. Kondisi ini tentunya tidak menguntungkan bagi para lansia, oleh karena itu peran keluarga menjadi sangat penting,” jelas M. Yani.
Senada dengan M. Yani, Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo SpoG(K) dalam sambutan sekaligus pembukaan webinar menyebutkan bahwa lansia menjadi perhatian khusus bagi BKKBN karena Indonesia akan memasuki ageing population (penuaan penduduk).
“Ada suatu permasalah yang harus dipertimbangkan betul karena antara yang namanya dependensi rasio antara lansia yang usia tidak produktif antara 15 sd 65 tahun terus meningkat yakni 15 persen. Artiny semakin banyak lansia yang kehidupannya harus ditanggung oleh penduduk usia produktif,” jelasnya.
Hasto Wardoyo melanjutkan, peningkatan angka lansia harus diimbangi dengan penurunan dependency ratio (rasio ketergantungan) terhadap balita atau bayi atau yang usia 15 tahun, jadi kalau lansianya terus bertambah, kemudian balita tidak menurun, maka dependeny ratio akan lebih cepat, kemudian membesar sehingga beban pembangunan akan lebih berat.
“Untuk itu lansia harus lebih sehat, lebih berkualitas dan harus lebih produktif dengan demikian Bonus Demografi Jilid 2 bisa kita dapatkan, untuk itulah kita sama-sama memperhatikan para lansia,” jelasnya.
Pentingnya upaya peningkatan kualitas pra lansia, BKKBN melalui direktorat lansia memandang perlu sebuah kajian khusus mengenai persoalan lansia di Indonesia dengan mengadakan suatu forum webinar. Harapnya, tentu saja agar dapat menambah wawasan bagi para penyuluh BKKBN di seluruh Indonesia, khususnya dan masyarakat Indonesia secara umum. Seain itu sebagai sarana untuk menyampaikan kepada masyarakat bahwa BKKBN sedang berupaya memaksimalkan pelaksanaan program unggulan Perawatan Jangka Panjang (PJP) bagi para lansia yang diinisasi BKKBN sejak tahun 2018 lalu.
Dalam webinar ini juga ditampilkan video singkat akitvitas para care giver yakni keluarga dan Care of Excellence (COE) atau Kelompok Bina Lansia (KBL ) binaan BKKBN dari berbagai lokasi di tanah air. Dalam video tersebut tampak para care giver baik keluarga mauou KBL mendampingi para lansia mulai dari membersihkan tubuh, mengganti pakaian, menyiapkan dan menyuapi makanan, menemani beribadah dan kegiatan yang memberikan penguatan dan kebahagiaan lainnya bagi para lansia.
Ada empat tema besar yang dipaparkan oleh para narasumber dalam webinar bertema “Pahami Lansia, Bahagia Seluruh Keluarga” dipandu oleh dr. dr. Vito Damay, SpJP(K), Mkes, FIHA, FICA, FasCC ini.
Tema Pertama, Kebijakan Rehablitasi Sosial untuk Kesejahteraan Lansia disampaikan oleh Direktur Jendral Rehabilitasi Sosial, Kementrian Sosial Dr. Ir. Harry Hikmat, MS.i, (Mewakili Mentri Sosial Juliari P. Batubara)
Tema kedua, Peran Keluarga dalam Pendampingan Perawatan Jangka Panjang bagi Lansia dipaparkan oleh Mantan Mentri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (Periode 2014-2019)
Tema ketiga, Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo, SP.OG (K) menyampaikan Problem Psikologis lansia yang dapat menyebabkan stres, depresi dan psikosis/skizofrenia dapat disebabkan oleh kondisi sosial lansia, kesepian, sakit, dan ekonomi lemah.
Tema kempat, yakni Mengenali dan Mencegah Penyakit pada Lansia dan Pelayanan homecare disampaikan Dosen Divisi Geriatri departemen Ilmu Penyakit dalam FKUI-RSCM sekaligus Kepala Bidang I Perhimpunan Gerontologi Medik (PERGEMI), Prof. Dr. dr. Siti Setiati, SpPD-K Ger.,M.Epid, FINASIM.
Dalam diskusi ini, masing-masing pembicara menyoroti berbagai hal yang perlu diketahui seputar persolan yang dihadapi oleh lansia, diantaranya manajemen stres seperti disampaikan oleh Hasto Wardoyo.
Bagi perempuan mengalami menopause, dimana terjadi penurunan hormon ekstrogen yang ditandai rasa lemah, hot flashes, perubahan suasana hati, insomnia. Sedangkan pada lelaki disebut andropouse yaitu penurunan fungsi hormon endrogen, ditandai dengan pernurunan libido, kurang tenaga, penurunan kekuatan otot, sedih dan marah tanpa sebab, penurunan ereksi dan mudah mengantuk.
“Problem secara psikologis lansia itu memang sakit sering datang, tidak semua kaya atau dalam kondisi ekonomi lemah, kondisi sosial, kesepian sehingga itulah yang membuat mereka bisa stres, depresi, psikosis dan skizofrenia,” jelas Hasto.
Oleh karena itu , perlu adanya kemampuan dalam manajemen Stres sehingga kehidupan keluarga yang bahagia dan seimbang dapat diwujudkan. “Cintai orangtuamu. Kita terlalu sibuk tumbuh dewasa, kita lupa bahwa mereka juga tumbuh semakin tua. Daya tahan fisik yang semakin menurun,” imbuhnya lagi.
Meningkatnya rata-rata Usia Harapan Hidup (UHH) menjadi 73,4 tahun (laki-laki 71,49 tahun dan perempuan 75,27 tahun), menunjukkan bahwa derajat kesehatan penduduk Indonesia semakin membaik. Menurut WHO, pra lansia memiliki batasan usia 45-59 tahun. Pada usia tersebut, seseorang harus mulai mempersiapkan diri menuju lansia. Oleh karena itu, dibutuhkan persiapan bagi pralansia untuk menghadapi masa lansia nanti untuk menjadi Lansia Tangguh yang sehat, aktif, mandiri, produktif dan bermartabat.
“Ini yang sebenarnya yang sedang disiapkan regulasi melaului Peraturan Mentri Sosial tentang komponen-komponen yang dilakukan berbasis keluarga, komunitas, maupun residensial. Nah tentu kehadiran para pendamping termasuk pendamping jangka panjang yang diinisasi BKKBN akan semakin memperkuat layanan bagi lansia,” jelas Direktur Jendral Rehabilitasi Sosial Kementrian Sosial Dr. Ir. Harry Hikmat, MS.i.
Kondisi yang diinginkan bagi para lansia dapat terdiri dari The AIM SMART Elderly (Sehat, Mandiri. Aktif, Produktif), dimana menginginkan semua lansia untuk mencapai kondisi yang sehat, tidak bergantung pada orang lain dan mandiri, selalu aktif dalam menjalankan aktivitas, dan masih tetap produktif. Akan tetapi, untuk mencapai kondisi tersebut memerlukan tantangan.
Data Pusdatin Kemenkes 2020 menunjukkan 44% Lansia Indonesia memiliki Multimorbiditas (banyak penyakit). Pada Tahun 2018 saja penyakit yang menyerang para lansia 63,5% Hipertensi, 53,6% Gangguan Gigi, 18% Arthritis, 17% Gangguan Oral, 5,7% Diabetes Melitus, 4,5% Jantung Koroner, 4,4% Stroke, 0,8% Gagal Ginjal, 0,4% Kanker.
Menurut Dosen divisi Geriatri departemen Ilmu Penyakit dalam FKUI-RSCM sekaligus Kepala Bidang I Perhimpunan Gerontologi Medik (PERGEMI), Prof. Dr. dr. Siti Setiati, SpPD-K Ger.,M.Epid, FINASIM selain berbagai penyakit tersebut terdapat suatu kondisi yang disebut Sarcopenia dan Frailty . Sarcopenia merupakan kondisi penurunan massa otot, kekuatan otot, dan performa fisik seperti kecepatan berjalan, kekuatan genggaman tangan.
Kondisi Frailty merupakan istilah baru tetapi lima tahun belakangan ini banyak sekali dibahas, yaitu dimana suatu kondisi klinis seseorang yang memiliki kerentanan untuk mengalami ketergantungn dan atau kematian ketika ada stresor/stres.
“Stres pada orang tua bisa sampai pada kondisi depresi juga. Stresor pun terdiri dari psikologis yaitu ada keluarga yang meninggal dunia, dan stresor fisik karena infeksi akut,” ungkapnya.
Data BPS (2019) menunjukkan angka kesakitan penduduk lansia masih sebesar 26,20%. Disabilitas pada lansia terjadi akibat bertambahnya usia atau kondisi-kondisi tertentu (penyakit, kecelakaan, trauma, dsb). Seiring dengan bertambahnya usia, angka disabilitas cenderung meningkat. Banyaknya penyakit yang diderita (multi patologis) dan meningkatnya kecenderungan disabilitas pada lansia, merupakan indikasi dibutuhkannya Perawatan Jangka Panjang (PJP).
Mencegah berbagai penyakit bagi para lansia dapat dilakukan dengan konsumsi makanan bergizi, berhenti merokok, cukup vitamin D, aktivitas fisik, tidur cukup, kelola stres, dan keterlibatan sosial.
Sementara itu, Menteri Perikanan dan Kelautan Periode 2014-2019 Susi Pudjiastuti lebih banyak menuturkan tentang pengalamannya dalam merawat lansia yakni kedua orang tuanya, dan kedua neneknya semasa mereka masih hidup. Secara khusus, Susi menuturkan tentang pengalamannya merawat mendiang ibunya yang hidup hingga berusia 86 tahun dan menderita diabetes sebelum akhirnya tutup usia beberapa tahun lalu.
“Kebetulan orang tua saya menderita diabetes, maka sangat susah sekali untuk diberikan obat, kadang suka diumpetin dikolong kasur agar obatnya gak diminum karena jumlahnya yang banyak, pada akhirnya saya mempelajari tentang diabetes, dan mencari dokter lainnya yang dimana dokter tersebut hanya memberikan dua obat saja serta memberi saran,” kenang Susi.
Susi melanjutkan, karena ibunya menolak untuk minum obat, Susi pun tidak kehabisan akal, untuk mencari alternatif lainnya,, kalau gula darahnya menurun ia tidak memberikan obat untuk ibunya.
“Saya merubah pola dari taking care of everything, take care of every single food diganti dengan konsumsi makanan yang sehat dan sesuai penderita diabetes serta rajin mengajak jalan-jalan,” kenang wanita yang fotonya viral ketika ia menggendong dan menyuapi mendiang ibunya.
Pada kesempatan itu, Susi membagikan tipsnya dalam merawat mendiang sang ibu seperti mengajak jalan-jalan, menyiapkan bacaan seperti majalah, membelikan oleh-oleh, perhiasan murah-murah, daster, seprai warna-warni, cookies khusus untuk penderita diabetes dan hal-hal kecil lainnya yang membuat sang ibu senang.
“Kalau sudah tua itu warna itu metter, jadi almost kayak anak-anak. Saya juga suka kasih uang 200 sampai 250 ribu untuk belanja pasar, belanja apa saja yang ibu saya suka, beli sapu, baju apa saja yang bisa bikin dia happy. Malah dengan sering keluar aktivitas gitu, gulanya justru steady,” tuturnya dengan gaya yang khas.
Banyak hal menarik dan bermanfaat yang disampaikan oleh para pembicara tentang bagaimana sebaiknya merawat para lansia dan benang merahnya adalah tempat terbaik dan ideal bagi para lansia adalah di rumah bersama keluarga, jika pun harus tinggal di panti maka itu adalah pilihan terakhir. Untuk itu, harus selalu diingat bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga.
Kegiatan webinar ini ini disiarkan secara langsung melalui media daring Zoom serta Youtube BKKBN Official, Peserta yang hadir berjumlah 1000 peserta Zoom dan 5000 peserta Youtube. Tentunya melalui webinar ini diharapkan masyarakat luas menjadi lebih paham bagaimana meperlakukan para lansia di keluarga dan lingkungan masing-masing. Karena, dengan memahami para lansia, kebahagiaan bisa terwujud oleh seluruh keluarga. Sesuai motto BKKBN di hari peringatan Keluarga Nasional ke-27 ini yakni, “Lansia Tangguh, Berencana itu Keren,” CM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *