Sedang Musim DBD, Apa Kabar Vaksin Dengue?

#LiputanMedia

Jakarta – Angka demam berdarah dengue semakin bertambah di Indonesia. Penyakit ini disebabkan karena infeksi virus dengue yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti. Efeknya bisa ringan, namun bisa jadi sampai mengakibatkan kematian.

Dijelaskan ada 4 jenis (serotipe) berbeda virus dengue yang menjadi penyebab DBD yaitu virus dengue-1 (DEN-1), DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Namun, dengan melakukan vaksinasi DBD, ternyata kemungkinan untuk menurunkan risiko syok pada pasien DBD sampai dengan 93 persen!

Hal ini disampaikan oleh dr Mulya Rahma Karyanti SpA(K), MSc, Ketua Divisi Infeksi dan Pediatri Tropik Departemen Ilmu Kesehatan Anak RS Cipto Mangunkusumo-Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dalan jumpa pers di Gedung Kementerian Kesehatan RI, Jakarta Selatan, Rabu (30/1/2019).

“Vaksin DBD memang sudah disetujui BPOM dan dimasukan dalam satgas imunisasi dari PP IDAI dan boleh diberikan pada usia 9 sampai 16 tahun,” jelasnya.

Pemberian dilakukan dalam tiga tahap dengan jarak 6 bulan. Dijelaskan dr Karyanti, ada beberapa vaksin yang beredar dan efikasi atau kemanjurannya sangat baik. Dari vaksin itu bisa mencegah hingga 93 persen kejadian DBD berat dan bisa mencegah biaya perawatan sampai 88 persen.

“Vaksin apapun kan enggak ada yang 100 persen yang efekasinya. Misalnya cacar air, orang kan kalau udah vaksin cacar air masih bisa kena tapi lebih ringan kan bukan berat. Nah ini yang kita takutkan. Dia masih bisa kena dbd tapi enggak yang shock, bukan yang berat,” tambahnya.

DBD berat yang dimaksud adalah ketika DBD sampai menimbulkan efek yang berat dan mengancam nyawa, seperti kebocoran plasma.

Untuk biaya vaksin DBD, tiap rumah sakit tentu memiliki kebijakan yang berbeda. Namun, dr Karyanti menuturkan angka bisa berkisar Rp 1 juta untuk sekali suntik vaksin DBD.

“Saya pernah tahu sih sekitar Rp 1 juta sekali suntik. Tapi kalau biaya perawatan kalau kena DBD yang biasa aja itu Rp 5 jutaan, atau kalau syok sampai ke PICU itu bisa Rp 20 jutaan lebih. Jauh lebih murah sih dibanding kena penyakitnya,” katanya.

Terakhir, dr Karyanti berharap agar vaksin DBD bisa dimasukkan dalam program nasional. Ia berujar vaksin DBD adalah langka preventif yang baik guna alokasi dana yang juga semakin baik.

“Pasti kita sebagi dokter anak semua yang direkomendasikan PPD. Moga-moga alokasi bisa digunakan sebaik mungkin untuk promotif preventif, jangan kuratif. Kalau kuratif akhirnya BPJS biayanya mahal,” tandasnya.

 

Sumber berita: https://health.detik.com/…/sedang-musim-dbd-apa-kabar-vaksi…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *