Puncak Kasus Covid-19 di Indonesia Masih Sulit Diprediksi

Doctor Moyra Lopez comforts a terminal patient at the so-called ‘humanized farewell’ room, where patients recieve messages from their relatives through technological devices, at the Barros Luco Hospital, in Santiago, on July 22, 2020. – As the fatality rate in coronavirus-hit Chile is on a halt, the humanized farewell room first intended only for Covid-19 cases, is now used for all terminal patients. (Photo by Martin BERNETTI / AFP)

#Liputanmedia

Beritasatu.com – Puncak kasus Covid-19 di Indonesia hingga saat ini masih sulit untuk diprediksi karena beberapa kondisi. Hal itu dikemukakan oleh Penasihat Satuan Tugas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djoerban .

Zubairi mengatakan bahwa secara grafik perkembangan kasus Covid-19 di Tanah Air masih berpotensi naik. Namun, peningkatan kasus tersebut fluktuatif, sehingga puncak kasus masih sulit diprediksi.

“Prediksi puncak kasus sekarang belum dapat diprediksi karena kita melihat dunia atau negara lain kasus masih tinggi. Misalnya, Jepang yang saat ini jumlah kasus paling banyak. Jadi memang dan enggak tanggung-tanggung lebih dari 1 jutaan kasus per minggu,” kata Zubairi saat dihubungi Beritasatu.com, Rabu (10/8/2022).

Zubairi menuturkan perkembangan kasus yang fluktuatif ini terjadi di beberapa negara. Ada yang cenderung naik dan ada pula yang menurun. Namun, terkait perkiraan puncak gelombang Covid-19 mencapai 20.000 kasus per hari, Zubairi menuturkan, peningkatan kasus tidak mencapai 20.000 kasus seperti perkiraan sebelumnya.

Sebagaimana diketahui, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyebutkan puncak kasus Covid-19 subvarian Omicron di Indonesia mencapai sekitar 20.000 kasus.

Kendati demikian, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) ini mengimbau agar Indonesia tetap waspada. Hal ini karena peningkatan kasus mingguan yang masih tinggi serta berkaca dari peningkatan kasus Covid-19 mingguan di negara lain seperti Jepang dengan 1,5 juta kasus, Korea Selatan, 761.800 kasus, Amerika Serikat (AS) 556.756 kasus, Jerman 335.203 kasus, dan Italia 243.501 kasus.

“Situasi Indonesia ini harus tetap waspada karena naik turun kasus. Di sekeliling kita banyak negara masih naik kasus, tetapi trennya kenaikan tidak banyak tetapi sedikit-sedikit,” paparnya.

“Beberapa minggu lalu, kita pernah kasus 1.000 per hari, nah sekarang mencapai 6.000 kasus per hari. Jadi secara grafik kasus cenderung naik,” ucapnya.

Pada kesempatan sama, Zubairi juga menuturkan untuk saat ini keterisian tempat tidur rumah sakit tidak dapat menjadi pertimbangan kenaikan kasus. Pasalnya, ketika kasus Covid-19 menurun drastis, rumah sakit sempat kosong, sehingga tempat tidur untuk isolasi Covid-19 dikurangi.

“Ketersediaan tempat tidur untuk Covid-19 memang dikurangi dibandingkan dulu. Jadi, sekarang kalau BOR dibilang lebih dari 15% karena persentase keterisian dan ketersediaan tempat tidur dikurangi,” ucapnya.

sumber berita: https://www.beritasatu.com/news/962571/puncak-kasus-covid19-di-indonesia-masih-sulit-diprediksi