Pencinta Kopi Perlu Tahu Dampak si Hitam Bagi Lambung dan Kesehatan Lainnya

#Liputanmedia

Liputan6.com, Jakarta Sejak dulu kopi memiliki banyak penggemar mulai dari anak muda hingga orang tua. Seiring berjalannya waktu, olahan biji kopi semakin beragam dan minum kopi pun semakin membudaya.
Walau demikian, minuman bercita rasa pahit ini disebut-sebut sebagai dalang dari munculnya rasa sakit pada lambung. Bagi penderita asam lambung, kopi menjadi salah satu jenis minuman yang perlu dibatasi atau bahkan dihindari.
Menurut Guru Besar Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Ari Fahrial Syam kopi memiliki kandungan kafein yang memang dapat meningkatkan asam lambung.
“Di dalam kopi ada unsur kafein, nah kafein ini memang bisa meningkatkan asam lambung,” ujar Ari dalam video yang dibagikan kepada Health Liputan6.com, Rabu (25/11/2020).
Ia menambahkan, di dalam lambung ada keseimbangan antara faktor agresif yang menyebabkan kerusakan secara langsung dan ada pula faktor defensif yang melindungi. Salah satu faktor agresif yang utama adalah asam lambung.
“Meningkatnya asam lambung dapat disebabkan berbagai hal, bisa dari stres dan kafein kalau makanan asam dan pedas sifatnya merusak lambung.”
Faktor agresif setiap orang berbeda-beda tergantung dengan apa yang dikonsumsi. Jika banyak mengkonsumsi makanan pedas dan asam maka akan menyebabkan kerusakan walau tidak berat.
“Kalau makan cabai walaupun banyak tidak menyebabkan kerusakan berat tapi kalau konsumsi obat penghilang rasa sakit itu akan sangat merusak.”
Sedang, faktor defensif adalah faktor yang melindungi lambung. Faktor ini dapat terganggu ketika adanya konsumsi obat penghilang rasa sakit dan turunnya tekanan darah yang dapat menyebabkan penipisan lambung.
“Sebelum ke kopi, masyarakat harus tahu dulu bahwa dalam lambung ada keseimbangan agresif dan defensif. Kalau keseimbangan ini kita jaga maka lambung akan aman tapi kalau kita ganggu maka asam lambung dapat meningkat, contohnya dengan minum kopi.”
Mengenal Batasan Minum Kopi
Sebelum meminum kopi, para pencinta kopi dianjurkan untuk mengetahui batasan aman. Baru-baru ini ada tren penjualan satu liter kopi oleh berbagai penjual mulai dari kafe kecil hingga kafe yang sudah terkenal. Konsumsi satu liter kopi dalam waktu singkat tidak dianjurkan karena dapat berbahaya bagi lambung.
“Kalau satu cangkir mungkin kafeinnya sekitar 50 mili gram itu masih tidak apa-apa. Kalau minumnya 3 cangkir ya kan 3 cangkir sekitar 450 cc itu sudah batas tolerirnya,” lanjut Ari.
Solusi yang dapat diterapkan pada konsumen yang membeli kopi satu liter adalah meminum kopinya sebagian di satu hari lalu meminum sebagian lagi di hari-hari berikutnya. Namun, kualitas kopi perlu diperhatikan, apakah kopi tersebut aman jika disimpan dalam jangka waktu tertentu.
“Kita perlu pelajari dulu bagaimana informasi terkait kopi tersebut, apa boleh setelah kopi dibuka kemudian disimpan dalam waktu tiga hari.”
Solusi lainnya adalah tidak perlu membeli kopi satu liter jika hanya untuk diminum satu orang. Kopi kemasan lebih kecil dapat menjadi pilihan. Jika sudah terlanjur membeli kopi satu liter maka dianjurkan untuk dibagi empat dan diminum oleh empat orang berbeda.
Cara Mengukur Ketahanan Lambung Terhadap Kopi
Dalam mengukur ketahanan lambung terhadap kopi tidak cukup dengan percobaan. Dengan kata lain, jika minum segelas tidak terasa sakit maka minum dua gelas dan seterusnya.
Lebih dari itu, setiap orang perlu memiliki pengetahuan bahwa tingkat toleransi kafein dalam lambung adalah 150 miligram atau setara dengan 3 cangkir kopi.
“Jika lebih dari itu, jangankan orang yang memiliki penyakit asam lambung tapi orang tanpa keluhan itu pun bisa merasa sakit di lambung.”
Bagi pecinta kopi yang memiliki asam lambung maka penggunaan obat penekan asam lambung boleh digunakan setidaknya 30 menit sebelum makan kemudian barulah minum kopi.
“Semoga dalam 30 menit asam lambung sudah turun dan bisa minum kopi. Ini cara menyiasati, tapi bagi orang sehat tidak perlu menggunakan obat tersebut.”
Tidak untuk Pasien Hipertensi dan Gastritis
Tak dapat dimungkiri, kandungan kafein dalam kopi dapat membuat tubuh lebih segar sehingga banyak anggapan dari orang bahwa kopi dapat menghilangkan rasa kantuk.
Namun, di sisi lain kafein juga dapat membuat jantung berdebar-debar yang pada akhirnya akan berdampak pada hipertensi.
“Maka harus hati-hati, pasien dengan hipertensi tidak boleh minum kopi karena kafein dalam kopi dapat meningkatkan tekanan darah.”
Selain hipertensi, kopi juga perlu dihindari oleh pasien gastritis atau peradangan di lambung, Jika pengobatan gastritis belum tuntas maka konsumsi kopi perlu dihindari.
“Kalau kita merasa pengobatan gastritis belum tuntas ya jangan minum kopi dulu, kalau terasa sakit di lambung berarti masih ada proses peradangan. Kalau masih ada peradangan, asam lambung akan memperberat kondisi peradangan tersebut.”
“Makanya, kopinya sementara dikurangi dulu. Tapi kalau sudah tidak ada keluhan, coba diukur-ukur dulu, konsumsi sedikit dulu jangan berlebihan.”
Bagi Pasien Diabetes
Bagi pecinta kopi yang memiliki diabetes atau kencing manis maka kopi dengan gula simple seperti gula pasir perlu dihindari.
“Jadi tidak boleh karbohidrat yang simple harus karbohidrat yang kompleks. Boleh menggunakan pemanis buatan yang kadar gulanya nol atau madu asli karena dia lebih kompleks dari gula pasir.”
Walau demikian, tetap perlu ada perhitungan kalori karena madu pun memiliki nilai kalori. Tiga sendok madu memiliki sekitar 100 kalori. Jika seseorang mengonsumsi madu berlebihan juga tidak akan baik, kata Ari.
“Silakan dikonsumsi tapi nilai kalorinya harus diperhitungkan. Hanya kadang orang menganggap makan buah aman tapi buah juga memiliki nilai kalori yang perlu dihitung kan ada pembatasan kalori untuk pasien dengan diabetes melitus.”
Jadi, pengidap diabetes boleh mengonsumsi kopi selama lambungnya baik dan diabetesnya tidak menyebabkan kembung atau begah (gastroparesis). Jika terjadi kembung dan begah berarti lambungnya sudah menipis.
Pengaruh Jenis Kopi
Kopi memiliki berbagai jenis mulai dari espresso, macchiato, cappuccino, hingga varian kopi lainnya. Berdasarkan jenis kopinya, perlu dikaji ulang mana yang lebih memperparah asam lambung dan man yang tidak.
Menurut Ari, dampak kopi pada lambung tidak dilihat berdasarkan jenis kopinya melainkan kandungan kafein yang ada dalam setiap jenis kopi.
“Itu berhubungan dengan kandungan dari kafeinnya, kita harus pelajari dulu komponen kafeinnya. Yang ditolerir itu di bawah 150 mili gram.”
Terkait kopi susu, sebetulnya susu memiliki sifat menetralkan yang berfungsi sebagai pelapis dari dampak kafein. Ari sendiri lebih memilih minum kopi susu ketimbang kopinya saja.
Jenis racikan kopi lainnya adalah kopi arabika yang dicampur parutan jahe. Jahe yang merupakan tanaman herbal bisa saja membawa efek pedih bagi beberapa pasien.
“Jahe ini termasuk herbal, pada beberapa orang ini bisa terasa perih tapi coba saja dulu.”
Jenis kopi yang tengah naik daun adalah kopi dingin. Sama dengan kopi lainnya, yang berpengaruh terhadap lambung adalah kandungan kafeinnya bukan panas atau dinginnya kopi.
“Saya rasa tidak ada hal yang signifikan baik dalam bentuk dingin maupun panas untuk berdampak pada lambung yang penting adalah kandungan kafeinnya.”
Memilih Kopi yang Baik
Dari berbagai jenis kopi yang ada, kopi yang baik adalah kopi segar dari biji kopinya langsung. Hal ini disampaikan pengamat sekaligus asesor barista kopi bersertifikat dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Reza Adam Ferdian.
“Kopi yang baik itu kopi segar, kita lihat biji kopinya, digiling kemudian diseduh itu menurut saya yang paling baik karena secara aroma, rasa, dan kualitasnya bagus,” ujar Reza kepada Health Liputan6.com melalui sambungan telepon, Jumat (27/11/2020).
Ia mengumpamakan, makanan lain pun akan lebih baik dikonsumsi dalam keadaan segar ketimbang makanan basi atau makanan dengan pengawet.
Selain itu, kopi yang segar juga baik bagi kesehatan. “Dari jurnal-jurnal yang saya baca, kopi itu bisa menurunkan potensi Alzheimer, menurunkan risiko diabetes tipe dua, melancarkan peredaran darah, dan meningkatkan daya kognitif.”
Kopi yang baik juga tak lepas dari pengolahan yang baik pula. Menurut petani sekaligus pemilik kedai Black Coffee Corner Sumedang, Jawa Barat, Nia Riana ada 4 pihak yang bertanggung jawab dalam terciptanya kopi berkualitas.
Keempat orang tersebut adalah petani, pengolah, pihak penyangrai (roastery), dan barista. Keempat orang tersebut saling melengkapi dalam mengolah kopi terbaik sejak dipetik dari pohon hingga sampai ke cangkir pelanggan.
“Jika ada salah satu pihak yang kurang tepat dalam melakukan tanggung jawabnya maka kualitas akhir dari kopi tersebut akan ikut terganggu,” ujar Nia kepada Health Liputan6.com Senin (23/11/2020).
Isu Kopi Saset
Selain petani dan pemilik kedai kopi, Nia juga adalah seorang penikmat kopi yang memiliki riwayat asam lambung sejak SMA. Menurutnya ia sempat berhenti minum kopi karena khawatir asam lambungnya kambuh.
“Tapi saya coba lagi minum kopi setengah gelas ternyata tidak sakit sama sekali di lambung. Kopi itu adalah kopi asli dari bijinya,” kata pria 39 tahun itu.
Namun, beberapa jam setelah minum kopi saset rasa sakit di lambung mulai terasa lagi. Walau demikian, ia tidak serta menyalahkan kopi tersebut. Ia mengaku penyakit lambungnya juga disebabkan gaya hidup tidak sehat dan pola makan tidak teratur.
Menurut Ari, kopi renceng atau saset memang memiliki berbagai isu di kalangan masyarakat. Namun, terlepas dari isu-isu tersebut, setiap dampak kopi kembali lagi pada kandungan kafeinnya.
“Kita bisa cari komposisi kafeinnya berapa, tapi memang kopi saset ini memiliki isu macam-macam. Kalau saya sih yang penting rasa kopinya dapat atau tidak, kalau nyaman dan membuat lebih segar ya silakan saja,” ujar Ari.
“Tapi kita tetap perlu mengukur, jika merasa perih setelah meminum kopi saset berarti kita sudah melewati ambang batas, kalau baik-baik saja ya berarti tidak apa-apa.”
Pola Konsumsi Kopi yang Baik
Reza menambahkan, baik buruknya konsumsi kopi kembali lagi ke masing-masing individu. Ia menganjurkan, konsumsi kopi harus tetap dalam ambang wajar.
Pola meminum kopi yang baik menurut Reza salah satunya adalah sesuai dengan selera. Selain itu, kopi juga sebaiknya diminum setelah makan.
“Ngopi tidak apa-apa tapi jangan lupa perutnya diisi, minum air putihnya banyak juga. Karena kalau terlalu banyak kan di dalam kopi ada senyawa kimia yang bisa menyerap vitamin kalau itu dibiarkan terus, bisa dehidrasi.”
Kafein memang dibutuhkan tubuh namun jumlahnya harus disesuaikan. Hal lain yang perlu diketahui adalah kemampuan metabolisme tubuh, apakah kuat menerima kafein dalam jumlah tertentu atau tidak, katanya.
Dilihat dari sisi waktu, Reza menyebutkan bahwa waktu yang baik untuk minum kopi adalah antara pukul 8 pagi hingga 11 siang, kemudian pukul 14.00 hingga 17.00.
“Setelah makan malam, kopi itu sifatnya opsional tapi kafein tetap dibutuhkan tubuh pada saat malam tapi kan bisa diganti dengan teh atau coklat. Kalau mau minum kopi lagi ya tidak apa-apa tapi saya sarankan makan dulu,” pungkasnya.