Mutasi Covid-19 E484K Lebih Menular, Ini yang Perlu Kita Dilakukan

#LiputanMedia

KOMPAS.com – Pemerintah melalui Satgas Penanganan Covid-19 beberapa hari lalu mengingatkan masyarakat untuk tetap disiplin mematuhi protokol kesehatan.
Hal ini dilakukan sebagai upaya mencegah penularan Covid-19 sekaligus mengantisipasi penularan mutasi E484K. Varian yang dijuluki “Eek” oleh para peneliti itu disebut lebih cepat menular.
Seperti dijabarkan dalam situs covid19.go.id, varian E484K merupakan hasil mutasi dari varian B.1.1.7.
Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi sebelumnya mengatakan, mutasi virus corona E484K sudah terdeteksi masuk ke Indonesia.
Adapun di Indonesia diduga sudah ada berbagai varian baru virus corona, seperti D614G, B117, dan N439K.
Terkait kemunculan varian ini, pemerintah terus meningkatkan pengawasan Whole Genome Sequencing (WGS) untuk memetakan varian Covid-19 yang masuk ke Indonesia, memperketat screening untuk warga negara asing (WNA) dan warga negara Indonesia (WNI) yang masuk ke Indonesia, hingga memastikan ketersediaan reagen demi tercapainya angka testing sesuai standar dunia.
Menghadapi mutasi virus
Adanya mutasi virus corona mungkin membuat sebagian masyarakat khawatir. Apalagi, varian E484K yang muncul pertama kalinya di Jepang dikabarkan dapat mengurangi perlindungan vaksin.
Terkait kemunculan mutasi virus corona, Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB mengatakan, pada dasarnya, masyarakat mesti waspada terutama jika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah mengklasifikasikan varian tersebut sebagai prioritas.
“Kalau di-mention seperti itu (prioritas) oleh WHO ya kita harus waspada, artinya dia berpotensi menimbulkan masalah dibandingkan strain yang ada sebelumnya,” kata Ari kepada Kompas.com, Senin (5/4/2021).
Hal yang terpenting, lanjut Ari, masyarakat sudah mengetahui bagaimana virus menular, yakni melalui percikan cairan (droplet) dan aerosol di udara.
Dengan begitu, penting untuk secara disiplin menerapkan protokol kesehatan, seperti menggunakan masker, menjaga jarak, cuci tangan menggunakan sabun, menghindari kerumunan, hingga membatasi mobilisasi dan interaksi, untuk mencegah penularan virus.
Kita mungkin sudah bosan mendengar anjuran tersebut, namun fakta di lapangan menunjukkan masih banyak masyarakat yang sulit mematuhinya.
“Jangan sampai kita euforia. Kalau euforia, ini yang nantinya membuat jatuh ke dalam wave berikutnya,” ungkapnya.
Kejadian lonjakan kasus di beberapa negara di Eropa dan India, misalnya, diharapkan dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia untuk mencegah agar tidak kembali mengalami lonjakan kasus.
Apalagi saat ini angka kasus Covid-19 di Indonesia sedang menunjukkan tren penurunan.
“Di Eropa, India sedang memasuki third wave. Kita masih dalam first wave yang menuju ke bawah. Tapi kalau tidak dijaga, kita bisa saja masuk ke second wave,” tuturnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *