Menjawab Persoalan Stunting, Gizi Buruk dan SKM – Prof. Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif SpA(K)

#LiputanMedia

Menjawab Persoalan Stunting, Gizi Buruk dan SKM

Prof. Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif SpA(K)

Berbekal 20 tahun pengalaman mendalami nutrisi anak dan melakukan Uji Coba Aksi Cegah Stunting di Pandeglang, Prof. Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif SpA(K), Ketua Pokja Antropometri Kementerian Kesehatan dan Dokter Spesialis Anak Konsultan Nutrisi Penyakit Metabolik FKUI-RSCM, mengusulkan terobosan kebijakan dalam mengatasi stunting.

NERACA

Jakarta – Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan angka prevalensi stunting di Indonesia masih tinggi, yakni 30,8%. Itu sebabnya mengapa pencegahan stunting menjadi agenda besar di bidang kesehatan, terlebih setelah Presiden Joko Widodo mendesak penanggulangan stunting. Dibutuhkan langkah efektif untuk menanggulangi persoalan stunting dan gizi buruk, guna memaksimalkan pengembangan SDM menuju Indonesia Emas 2045.

“Ada tiga hal pokok yang harus dilakukan dalam penanganan stunting,” kata Prof. Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif SpA(K), Ketua Pokja Antropometri Kementerian Kesehatan, dalam wawancara khusus dengan Harian Ekonomi Neraca, Selasa, (14/1). Yaitu, pemantauan status gizi yang benar, tata laksana rujukan berjenjang dan intervensi gizi.

Pemantauan status gizi yang benar, kata Damayanti, dengan memantau tumbuh kembang secara teratur.“Cara menimbang berat badan diperbaiki. Yang benar itu bayi ditimbang tanpa baju atau dengan baju dalam tipis. Mengukur panjang badan pakai alat pengukur baku. Berbeda juga alat pengukurnya antara anak di bawah 2 tahun dengan yang di atas usia 2 tahun. Hasil timbang dan ukur penting untuk deteksi dini berat badan kurang atau masalah gizi lainnya,” ujarnya.

Sedangkan tata laksana rujukan berjenjang, dengan mengaktifkan poros posyandu-puskesmas-RSUD.“Kalau terpantau berat badan kurang harus segera dirujuk ke dokter puskesmas dan dokter spesialis anak di RSUD agar bisa dilakukan diagnosis penyebabnya,” tambahnya.

Intervensi gizi dilakukan dengan edukasi pola makan berbasis protein hewani.“Kunci untuk nutrisi otak dan tinggi badan itu protein hewani. Karena protein hewani mengandung asam amino essential lengkap, lebih efektif dicerna, dan berperan mencegah hambatan pertumbuhan linear,” tegas Damayanti. Ia menjelaskan nutrisi otak anak yang dibutuhkan hingga usia dua tahun adalah lemak, karbohidrat dan protein hewani.“Sayur mayur tidak cocok untuk anak di bawah usia dua tahun. Sayur diberikan setelah berusia dua tahun,” tambahnya.

Tiga pola penanganan stunting ini telah ia terapkan dalam uji coba cegah stunting di desa Bayumundu, Pandeglang.“Saya aktifkan poros kader posyandu-Puskesmas-RSUD dengan melibatkan semua kader posyandu, Tim PKK desa, petugas gizi lapangan, bidan desa, dokter puskesmas, dan dokter spesialis anak di RSUD. Saya minta anak-anak makan protein hewani. Tidak harus daging, ada telur dan ikan. Cara timbang dan ukur bayi diperbaiki. Kalau dari hasil ukur dan timbang berat badan kurang harus segera dirujuk ke dokter puskesmas dan dokter anak di RSUD,” ujarnya. Setelah selama 6 bulan melakukan pemantauan rutin sejak Agustus 2018 di Desa Bayumundu, Pandeglang, timnya dapat menurunkan 8,4 persen prevalensi stunting pada balita dan 6,1 persen pada baduta.

Damayanti, yang pada Desember lalu dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Kesehatan Anak FKUI, menyatakan pencegahan stunting melalui asupan gizi sudah dimulai sejak bayi dalam janin ibu.“Sejak masa konsepsi 270 hari ditambah 730 hari setelah anak lahir atau sampai usia 2 tahun,” ujarnya. Bayi baru lahir diberikan ASI hingga ia berusia dua tahun.

“Komposisi ASI terdiri dari lemak, karbohidrat dan protein,” kata Damayanti. ia menyatakan kesalahan yang sering dilakukan ketika memberikan makanan pendamping selain ASI adalah tidak ada lemak, karbohidrat dan protein hewani. Padahal bila asupan nutrisi tidak mencukupi, akan berpengaruh pada kurangnya berat badan serta perkembangan otak tidak sempurna. Berat badan yang kurang akan terus berlanjut pada gizi kurang sampai gizi buruk.

“Kalau anak mengalami gizi buruk dalam jangka usianya kurang dari 1 tahun, maka 65% mempunyai IQ tidak lebih dari 90. Artinya, dengan kemampuan otak sebesar itu, kemampuan bersekolah anak hanya sekitar 7 tahun. Mau sebagus apapun dia dipilihkan sekolah, anak tidak akan mampu karena otak mereka memang tidak mampu,” tegas Damayanti. Ketidakmampuan pada otak, ujarnya, disebabkan pola makan yang salah. Karena makanan yang diberikan tidak mengandung lemak, karbohidrat dan protein hewani.

Dari beragam protein hewani seperti telur, ikan, susu, ayam, dan daging, protein yang memiliki efek paling bagus untuk otak dan tinggi badan adalah susu. Sayangnya konsumsi susu di Indonesia masih rendah, hanya 16,5 liter perkapita pertahun. Dan yang lebih miris, susu yang paling banyak dibeli adalah susu kental manis (SKM).

Damayanti menegaskan peruntukan SKM bukan untuk susu.“SKM itu gula. Protein SKM hanya 3 persen, dan protein krim kental manis cuma 1 persen. Gulanya lebih dari 50 persen. Jadi memang peruntukan SKM itu untuk pelengkap makanan atau topping,” ujarnya.

Menanggapi masih adanya persepsi masyarakat bahwa SKM sebagai susu, Damayanti meminta agar penyampaian pesan iklan SKM diubah, tidak lagi menyatakan bahwa SKM sebagai produk susu.“Pesan iklan harusnya menyatakan peruntukan SKM sebagai topping atau pelengkap makanan, bukan susu,” kata Damayanti.

Persoalan pesan edukasi menurutnya harus lebih diperhatikan.“Pemerintah harus lakukan banyak edukasi supaya pola makan anak diperbaiki. Jangan hanya membangun (infrastruktur). Makanan anak juga harus dipikirkan,” ujarnya. Ia mendorong pemerintah segera mengeluarkan aturan teknis terkait penanganan stunting.“Langkah paling tepat untuk pencegahan stunting dengan pencegahan, karena dampaknya bisa permanen terhadap kognitif dan fisik anak,” ujarnya. Mohar

Sumber berita: http://www.neraca.co.id/…/menjawab-persoalan-stunting-gizi-…