Mengenal IBD, Penyakit Autoimun di Saluran Pencernaan

#LiputanMedia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Penyakit autoimun merupakan suatu kondisi di mana sistem kekebalan tubuh atau sistem imun menyerang tubuh sendiri. Salah satu penyakit autoimun yang cukup sering menjadi perbincangan adalah penyakit radang usus atau inflammatory bowel disease (IBD).

IBD pada dasarnya merupakan penyakit autoimun yang berawal atau ‘bersarang’ di saluran pencernaan. IBD terdiri dari dua jenis yaitu kolitis ulseratif dan penyakit Crohn. Pada kolitis ulseratif, peradangan hanya terjadi di area usus besar. Sedangkan pada penyakit Crohn, peradangan bisa terjadi di bagian saluran pencernaan manapun.

“Saluran pencernaan itu panjangnya dari mulut sampai anus,” ungkap spesialis penyakit dalam dari Divisi Gastroenterologi FKUI-RSCM dr Virly Nanda Muzellina SpPD dalam diskusi kesehatan Tribute to Autoimmune Fighters, di Jakarta, belum lama ini.

Virly mengatakan ada beberapa dugaan terkait penyebab IBD. Namun seperti penyakit autoimun lainnya, penyebab pasti dari terjadinya IBD belum diketahui secara jelas. Dan seperti penyakit autoimun lain, IBD tidak bisa benar-benar disembuhkan namun penderitanya bisa mencapai remisi melalui terapi pengobatan.

Prinsip pengobatan IBD sama seperti penyakit autoimun lainnya yaitu menekan sistem imun. Sistem imun bisa ditekan dengan menggunakan obat-obatan misalnya steroid. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa agen biologi bisa memberikan angka remisi yang lebih tinggi dan lebih baik. Akan tetapi agen biologi tidak bisa digunakan sebagai terapi pengobatan tunggal dan biaya yang perlu dikeluarkan cukup tinggi.

Terkait remisi, Virly mengatakan pola remisi pada jenis kolitis ulseratif dan penyakit Crohn cenderung berbeda. Pasien IBD dengan jenis kolitis ulseratif cenderung mengalami pola remisi-kambuh secara berulang. Sedangkan pasien IBD dengan jenis penyakit Crohn bisa merasakan remisi yang lebih lama, bahkan bisa mencapai 2-3 tahun.

IBD juga tidak memiliki gejala yang spesifik. Gejala paling banyak yang dikeluhkan penderita IBD adalah diare kronik atau diare yang berlangsung cukup lama sekitar dua minggu atau lebih. Gejala lain yang cukup sering dikeluhkan penderita IBD adalah buang air besar berdarah, penurunan berat badan dan nyeri perut.

“Ini tidak khas, pada yang bukan autoimun pun (gejala) ini juga bisa terjadi,” jelas Virly.

Kasus IBD di Indonesia sebenarnya tidak sebanyak kasus IBD di negara-negara barat seperti Amerika Serikat dan Eropa. Dari 1.500 pemeriksaan kolonoskopi yang dilakukan di RSCM sepanjang 2017-2018, hanya ditemukan 175 kasus IBD.

Virly mengatakan IBD bisa mengenai semua kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Pada kelompok dewasa, kasus IBD paling muda pernah ditemukan pada usia 18 tahun yang merupakan usia peralihan dari anak ke dewasa.

“Tapi paling banyak di usia antara 20-49 tahun, puncaknya di situ,” lanjut Virly.

Risiko IBD juga tampaknya tidak begitu dipengaruhi oleh jenis kelamin. Rasio IBD pada laki-laki dan perempuan bisa dikatakan hampir sama.

Karena terjadi di saluran pencernaan, penegakkan diagnosis IBD tidak dapat dilakukan melalui pemeriksaan darah. Bila ada kecurigaan ke arah IBD, maka pemeriksaan saluran pencernaan harus dilakukan.

Pemeriksaan yang bisa dilakukan adalah melakukan peneropongan pada saluran pencernaan melalui kolonoskopi. Virly mengatakan diare kronik dan buang air besar bedarah sudah menjadi indikasi untuk dilakukannya kolonoskopi pada pasien.

Bila pemeriksaan kolonoskopi menemukan adanya kelainan, akan dilakukan biopsi pengambilan jaringan. Di laboratorium, jaringan ini akan menjalani pemeriksaan histopatologi. Dari pemeriksaan inilah, dokter bisa mengetahui apakah keluhan yang dialami pasien merupakan IBD atau masalah lain seperti infeksi bakteri.

Karena IBD terjadi di saluran pencernaan, pasien IBD perlu memperhatikan pola makan dengan baik. Bila penyakit sedang berat, pasien IBD disarankan untuk menyantap makanan rendah serat agar usus yang sedang meradang diberikan kesempatan istirahat.

Namun bila kondisi dalam keadaan baik, pasien IBD disarankan untuk menyantap makanan tinggi serat dan rendah lemak. Virly mengatakan pasien IBD juga tidak perlu menjalani diet khusus seperti diet organik atau diet bebas gluten. Yang terpenting adalah mengonsumsi makanan tinggi serat dan rendah lemak ketika kondisi sedang baik.

Makanan yang tidak sehat seperti makanan berpengawet dan berperisa juga sebaiknya dihindari. Beberapa hal lain yang perlu dijaga selain asupan makan adalah pola hidup. Salah satunya adalah berhenti merokok dan menjauhi rokok.

“Lifestyle tidak sehat seperti merokok harus dihentikan,” terang Virly.

 

Sumber berita: https://www.republika.co.id/…/pokvs5370-mengenal-ibd-penyak…