Mencegah Kejadian Efek Samping Obat

#LiputanMedia

KESELAMATAN pasien menjadi isu global karena kesalahan pada proses pelayanan kesehatan dapat mengakibatkan cedera. Cedera pada pasien dapat disebabkan efek samping obat, salah satunya obat antiinfl amasi nonsteroid (OAINS) yang berisiko menyebabkan efek samping serius. OAINS di antaranya ibuprofen, natrium diklofenak, piroksikam, dan asam mefenamat. Di sisi lain, ketidaktepatan peresepan OAINS dapat meningkatkan risiko efek sampingnya.

Doktor Alyya Siddiqa Siregar SpFK dalam sidang promosi doktor FKUI menyatakan pencegahan efek samping OAINS harus dimulai dari puskesmas. Namun, saat ini belum ada metode meningkatkan upaya pencegahan tersebut. Dengan demikian, dirinya menginisiasi pembuatan penelitian pengembangan modul untuk mengatasi ketidaktepatan peresepan dan mencegah efek samping OAINS pada pasien lanjut usia di puskesmas.

“Intervensi dilakukan menggunakan modul tersebut untuk mengetahui efektivitasnya dalam meningkatkan pengetahuan dokter dan tenaga kesehatan (nakes), memperbaiki peresepan, dan menurunkan kejadian efek samping obat,” kata Alyya dalam sidang promosi doktor FKUI yang diselenggarakan secara daring, Senin, 28 Juni 2021.

Dalam penelitiannya, Alyya menyatakan itu modul efektif meningkatkan pengetahuan dokter dan tenaga kesehatan, menurunkan ketidaktepatan peresepan. Analisis multivariat menunjukkan dokter dan nakes yang tidak mengikuti lokakarya berpeluang melakukan ketidaktepatan peresepan 5,8 kali lebih besar daripada yang mengikuti lokakarya.

“Ketidaktepatan peresepan cukup tinggi, indikator tertinggi yaitu tidak diresepkannya obat pelindung lambung. Pasien endoskopi yang memiliki riwayat minum OAINS dalam 1 bulan sejumlah 11,7%. Sumber OAINS diketahui sebagian besar diresepkan oleh fasilitas pelayanan kesehatan primer dan hampir semua pasien mempunyai riwayat keluhan saluran cerna setelah minum OAINS,” bebernya.

Modul dibuat dalam bentuk buku yang dilengkapi dengan panduan pelaksanannya. Uji coba di dua puskesmas menunjukkan modul mampu laksana. Studi eksperimental dilakukan dengan menggunakan modul pencegahan OAINS yang membandingkan puskesmas intervensi dan puskesmas tanpa intervensi.

“Pada puskesmas intervensi, dilakukan lokakarya modul, sedangkan di puskesmas kontrol tidak dilakukan. Ketidaktepatan peresepan ditentukan sesuai dengan data rekam medis dan wawancara pasien. Untuk mengetahui efektivitas modul terhadap efek samping, dikumpulkan laporan gejala saluran cerna dan pemeriksaan darah samar di tinja,” jabarnya. Dok Media Indonesia

 

Sumber berita: https://www.medcom.id/…/yKXjVQEb-mencegah-kejadian-efek…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *