Info FKUI

Masih Soal Skin to Skin untuk Atasi Hipotermia, Ini Kata Dokter RSCM

#LiputanMedia

Jakarta – Di media sosial ramai cerita bagaimana seorang pendaki wanita di Gunung Rinjani diselamatkan dari hipotermia dengan cara disetubuhi. Hal tersebut lalu mengundang perbincangan bagaimana seharusnya menghadapi hipotermia di antara netizen.

Hipotermia sendiri adalah kondisi di mana suhu tubuh mengalami penurunan drastis dari yang normalnya sekitar 37 derajat celcius.

Salah satu metode yang disinggung adalah proses penghangatan skin to skin contact. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Dr dr Ari Fahrial, SpPD-KGEH menjelaskan kalau skin to skin memang bisa jadi alternatif atasi hipotermia tapi bukan dengan cara bersetubuh.

Skin to skin adalah metode transfer panas yang dilakukan dengan sentuhan kulit. Biasanya hal ini dilakukan oleh seorang ibu untuk menghangatkan tubuh anaknya yang baru lahir.

“Pada orang dewasa teknik skin to skin bukan dengan cara bersetubuh. Karena pijatan atau guncangan tubuh atau kegiatan yang membuat kita berkeringat harus dihindari pada orang yang sedang hipotermia,” kata dr Ari lewat pesan yang diterima detikHealth pada Rabu (24/7/2019).

Sebetulnya selain skin to skin ada cara lain yang lebih dianjurkan ketika menghadapi kasus hipotermia. Hal pertama dijelaskan oleh dr Ari mencari tempat yang lebih hangat atau kering, mengganti pakaian basah dengan yang kering, menyelimuti seluruh tubuh kecuali wajah, dan kalau korban masih sadar diberikan minuman hangat.

Lebih jauh dr Ari mengingatkan agar minuman hangat yang diberikan tidak mengandung kafein. Alasannya karena kafein dapat mendorong buang air kecil dan bagi penderita hipotermia hal tersebut dapat memicu dehidrasi yang berdampak buruk.

“Minum yang cukup untuk mencegah terjadinya dehidrasi atau kekurangan cairan yang akan memperburuk kesehatan akibat udara dingin tersebut. Saat udara dingin kita cenderung kita haus dan menghindari minum,” ungkap dr Ari yang juga praktik di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

 

Sumber berita: https://health.detik.com/…/masih-soal-skin-to-skin-untuk-at…