Keracunan Darah pada Leukemia Limfoblastik Akut Anak

#LiputanMedia

Hematotoksisitas atau keracunan darah pada leukemia limfoblastik akut anak selama terapi fase pemeliharaan penting untuk diperhatikan. Hal itu karena dapat menyebabkan masalah jiwa dan penghentian dini terapi yang dapat meningkatkan risiko kambuh.
 
Menghadapi masalah hematotoksisitas ini, penulis menelitinya untuk mengetahui angka kejadian keracunan darah di Indonesia. Penelitian dilakukan terhadap 106 pasien leukemia limfoblastik akut anak yang berobat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta, Juni 2017-Oktober 2018.
 
Penelitian ini berjudul ”Toksisitas Hematologi pada Leukemia Limfoblastik Akut Anak yang Mendapat Terapi Pemeliharaan: Kajian Khusus terhadap Genotip dan Fenotip Metabolisme Merkaptopurin”. Penelitian untuk disertasi ini menjadi syarat untuk memperoleh gelar doktor bidang ilmu kedokteran di Universitas Indonesia, Depok, 12 April 2019.
 
Leukemia adalah penyakit keganasan yang paling sering terjadi pada anak. Sebanyak 30 persen anak di bawah 15 tahun yang didiagnosis menderita kanker oleh leukemia. Pada anak dengan leukemia, 80 persen dari mereka menderita leukemia limfoblastik akut. Leukemia limfoblastik akut merupakan penyebab kematian tertinggi pada anak penderita kanker.
 
Angka keberhasilan pasien leukemia limfoblastik akut mencapai remisi atau pengurangan kesakitan setelah fase induksi atau pemberian obat lebih dari 90 persen. Namun, 30-40 persen di antaranya mengalami relaps atau kekambuhan pada fase pemeliharaan. Di negara maju, beberapa tahun terakhir, kejadian kambuh sebesar 11 persen, tetapi angka kejadian kambuh di RSCM lebih tinggi, yaitu masih 28,7 persen.
 
Merkaptopurin, yang disingkat 6MP, adalah obat utama pada fase pemeliharaan leukemia limfoblastik akut anak. Obat ini berfungsi untuk menekan sel blas, tetapi di sisi lain obat ini dapat menimbulkan keracunan, terutama leukopenia, yaitu turunnya jumlah leukosit atau sel darah putih.
 
Selama fase pemeliharaan, hematotoksisitas berupa leukopenia tingkat 3-4 terjadi pada 15 persen pasien leukemia limfoblastik akut anak. Di RS Dharmais, dari 23 persen pasien leukemia limfoblastik akut yang sedang mendapat terapi pemeliharaan, ditemukan keracunan darah berupa leukopenia sebesar 47,8 persen, anemia 95,7 persen, dan trombositopenia 17,4 persen.
 
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi hematotoksisitas dan melihat hubungannya dengan genotip enzim pemetabolisme merkaptopurin, yaitu thiopurine S-methyl transferase (TPMT), fenotip TPMT, dan karakteristik pada pasien leukemia limfoblastik akut anak di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *