Keberadaan Anak Berbibir dan Selangit Sumbing Jadi Beban Masalah Kesehatan

#LiputanMedia

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Diperkirakan di Indonesia terdapat 5800 bayi lahir dengan bibir dan lelangit sumbing.

Bibir dan lelangit sumbing termasuk kelainan kraniofasial yang penyebabnya multifaktorial.

Kelainan ini terjadi akibat kegagalan pembentukan bibir dan lelangit pada minggu ke 4 hingga 6 masa kehamilan. Akibatnya, terdapat celah pada bibir dan lelangit sang bayi.

“Keberadaan anak dengan bibir dan lelangit sumbing merupakan salah satu beban masalah kesehatan yang kadang terabaikan,” kata Kepala Unit Pelayanan Khusus Cleft and Craniofacial Center RSCM-FKUI, dr Kristaninta Bangun, SpBP-RE (KKF) di Jakarta, Jumat (12/7/2019).

Inilah yang mendasari didirikannya Cleft and Craniofacial Center (CCC) RSCM-FKUI dan peringatan Bulan Juli sebagai Bulan Kepedulian Bibir dan Lelangit Sumbing.

Pada Bulan Juli ini, CCC RSCM-FKUI menggelar Cleft and Craniofacial Awareness and Prevention Month yang bertajuk “Berbagi Senyum untuk Generasi Penerus Bangsa”.

Kegiatan ini meliputi peluncuran booklet “Perawatan Pascaoperasi Bibir dan Lelangit Sumbing”, leaflet “Pentingnya Menjaga Kesehatan Rongga Mulut”, peluncuran Program Pengampuan Cleft and Craniofacial Center di daerah, sosialisasi di Car Free Day, dan seminar “Comprehensive Cleft Care” untuk dokter umum.

Secara lebih dekat, Cleft and Craniofacial Center RSCM-FKUI merupakan pusat pelayanan multidisiplin untuk penatalaksanaan bibir dan lelangit sumbing serta kelainan kraniofasial lainnya.

Unit ini berada di bawah Divisi Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik, Departemen Medik Ilmu Bedah, RS Cipto Mangunkusumo dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang menyediakan berbagai layanan.

dr Kristaninta Bangun menyatakan, tidak hanya pembedahan, namun CCC juga melayani terapi lainnya seperti terapi wicara, makan, dan gigi oleh tenaga medis yang telah terlatih di bidangnya masing-masing.

Cleft and Craniofacial Center RSCM-FKUI menawarkan pelayanan terpadu untuk penderita bibir dan lelangit sumbing yang meliputi pelayanan sejak dini, sesuai tahap pertumbuhan dan perkembangan, multi- dan interdisiplin, serta berkesinambungan.

“Kami sangat antusias untuk dapat menggelar kembali Bulan Kepedulian dan Kewaspadaan Bibir dan Lelangit Sumbing pada tahun 2019 ini,” katanya.

dr. Luh K. Wahyuni, SpKFR (K) mengajak para orangtua dan masyarakat untuk dapat mengenali secara dini agar penderita bibir dan lelangit sumbing bisa mendapat akses ke pelayanan kesehatan yang efektif sejak dini.

“Ini agar mendapatkan hasil yang baik, tidak hanya secara estetik namun juga secara fungsional, sehingga dapat menjadi anggota masyarakat yang lebih produktif,” katanya.

Bagi setiap wanita usia reproduktif dan ibu hamil khususnya, agar dapat menurunkan risiko bayi yang dikandung menderita kelainan bibir dan lelangit sumbing, kiranya dapat lebih memperhatikan asupan gizi selama kehamilan,

“Seperti mengkonsumsi makanan kaya asam folat, menerapkan pola hidup sehat di masa kehamilan, menghindari konsumsi obat-obatan dan alkohol serta menghindari kebiasaan merokok”, ujar Dr. dr. Dwiana Ocviyanti, SpOG (K) sebagai Wakil Dekan I Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Menurut Direktur Utama RSUPN Cipto Mangunkusumo, dr. Lies Dina Liastuti, SpJP, MARS, pelayanan terpadu di Cleft and Craniofacial Center RSCM-FKUI tentunya menjadi solusi bagi para orang tua yang memiliki anak dengan bibir dan lelangit sumbing.

 

Sumber berita: https://www.tribunnews.com/…/keberadaan-anak-berbibir-dan-s…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *