Kateterisasi Jantung Kurangi Kematian Akibat Sindrom Penyumbatan Arteri

#Liputanmedia

KOMPAS.com- Pasien dengan sindrom serangan jantung Infark Miokard Akut dengan Elevasi Segmen ST (IMA-EST) memiliki risiko kematian yang tinggi.
Sindrom IMA-EST adalah salah satu kondisi koroner akut, yakni berupa penyumbatan pembuluh darah arteri jantung. Sindrom ini menyebabkan jantung mengalami kekurangan oksigen.
Apabila kondisi ini terjadi pada pasien yang tidak langsung ditangani, maka berpotensi terjadi kerusakan serius pada otot-otot jantung.
Dalam rilis Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) yang diterima Kompas.com, Selasa (27/10/2020) sebuah laporan dari studi yang dilakukan sejumlah staf medis di Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI-RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, menunjukkan efektivitas terapi katetrisasi jantung terhadap sindrom tersebut.
Laporan tersebut mengungkapkan bahwa penerapan terapi kateterisasi jantung terus meningkat di Jakarta, yang berdampak pada berkurangnya angka keterlambatan terapi pembukaan sumbatan pembuluh darah koroner atau terapi reperfusi.
Keberhasilan dari tindakan terapi tersebut berpengaruh pada penurunan tingkat kematian dini pasien dengan IMA-EST, atau sindrom penyumbatan pembuluh darah arteri jantung.
Dalam laporan studi yang telah dipublikasikan di jurnal Coronary Artery Disease pada Agustus 2020 lalu, mengamati 6.016 pasien dari 7.208 pasien IMA-EST yang dirawat di RSJPD Harapan Kita antara tahun.
Rata-rata pasien yang dianalisis dalam studi ini berusia 56 tahun, 86 persen laki-laki dan 64,3 persen di antaranya memiliki faktor risiko merokok.
Selama 8 tahun pengamatan di RS tersebut, penggunaan kateterisasi jantung meningkat secara signifikan dari 37,9 persen pada 2011 menjadi 71 persen pada tahun 2018.
Bahkan, proporsi pasien yang tidak mendapat terapi pembukaan sumbatan pembuluh darah koroner ini menurun dari 56,2 persen menjadi 29 persen.
Pada periode tahun 2015-2018, rata-rata waktu yang dibutuhkan sejak pasien datang ke rumah sakit hingga tindakan kateterisasi (door to device time) juga lebih singkat, yakni 72 menit, dibandingkan periode 2011-2014 yang dapat mencapai 97 menit.
Tindakan kateterisasi jantung membuktikan bahwa terapi ini mampu meningkatkan angka survival pasien IMA-EST, tampak dari penurunan angka kematian rumah sakit dari 7,9 persen menjadi 6,5 persen.
Sementara itu, pada sekitar 30 persen pasien IMA-EST yang datang dengan onset keluhan 7-12 jam, dianjurkan untuk diberikan tindakan terapi fibrinolitik saat masih berada di rumah sakit asal dengan onset gejala lebih dini.
Tidak jauh berbeda dengan kateterisasi, terapi fibrinolitik ini juga bertujuan untuk mengembalikan aliran darah pada pembuluh darah yang tersumbat.
Kendati demikian, jika kateterisasi merupakan terapi pembukaan sumbatan pembuluh darah koroner mekanik, fibrinolitik termasuk terapi dengan menggunakan obat.
Terapi fibrinolitik umumnya digunakan di rumah sakit yang tidak memiliki fasilitas kateterisasi sebelum akhirnya pasien dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas tersebut.
Tanpa adanya fasilitas kateterisasi jantung, maka kualitas terapi pembukaan sumbatan pembuluh darah koroner diupayakan dengan berbagai cara.
Di antaranya dengan mengedukasi dokter jaga dan perawat di IGD untuk mampu menerapkan terapi fibrinolitik. Selain itu, terpenting adalah mempercepat waktu door-in to door-out, sehingga periode iskemik atau penyumbatan total dapat diminimalkan.
Dekan FKUI Prof Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, MMB mengatarakan infark miokard akut merupakan salah satu masalah sistem kardiovaskular yang rentan menyebabkan tingginya angka perawatan dan kematian.
“Penegakkan diagnosis secara cepat dan teapt sangat diperlukan agar penanganan segera dilakukan, sehingga komplikasi kerusakan jantung lebih lanjut dapat dicegah,” jelas Prof Ari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *