Info FKUIUncategorized

Di Indonesia, Happy Hypoxia pada COVID-19 Sudah Ditemukan Sejak Maret 2020

#Liputanmedia

Jakarta – Gejala happy hypoxia semakin diwaspadai karena bisa berisiko fatal. Alat pulse oximeter yang disebut-sebut bisa mendeteksi dini pun jadi ramai dicari dan harganya melambung tinggi di pasaran.

Perlu diketahui, gejala ini bisa berisiko fatal karena pasien kekurangan kadar oksigen tanpa disadari. Prof Menaldi Rasmin, guru besar Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) mengingatkan pasien positif Corona tanpa gejala perlu waspada jika memiliki batuk yang menetap. Hal ini disebutnya, bisa menjadi tanda happy hypoxia sudah semakin dekat.

“Batuk yang menetap cepat pertimbangkan happy hypoxia sudah dekat,” lanjutnya.

Lalu seberapa umum kasus happy hypoxia terjadi, terutama di Indonesia?
Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dr Agus Dwi Susanto menjelaskan laporan awal happy hypoxia mulanya terjadi pada 18,7 persen pasien Corona di Wuhan. Sementara data yang ada pada RS Persahabatan ditemukan 1,7 persen pasien Corona mengalami gejala happy hypoxia.

“Saya punya data sedikit di RS Persahabatan, bahwa dari pasien COVID-19 derajat (kategori) sedang, yang dirawat sekitar 200. Kami temukan ada kejadian hypoxemia tanpa keluhan sesak napas itu sekitar 1,7 persen. Tidak banyak, tetapi ada pasien-pasien yang mengeluh ada terjadi hypoxemia tetapi tidak ada keluhan sesak napas,” bebernya dalam konferensi pers PDPI Selasa (8/9/2020).

Senada dengan dr Agus, dr Erlina Burhan, Ketua Pokja Infeksi Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PP PDPI) menjelaskan kasus happy hypoxia sudah ditemukan sejak Maret di Indonesia, khususnya di RS Persahabatan.

“Ini sebetulnya di RS Persahabatan kasusnya sudah ada, bulan Maret itu pasien kami yang saturasinya sudah 90 tetapi dia masih berjalan ke kamar mandi, masih menelepon istrinya, masih membaca buku, tidak terlihat sesak, kami juga waktu itu heran, ini pasien hebat banget karena ini kan penyakit baru, pengetahuan kita saat itu masih terbatas tentang COVID-19,” kata dr Erlina.

Bagaimana cara mencegah gejala happy hypoxia?
Selain mewaspadai tanda batuk menetap, dr Erlina menyebut ada beberapa bagian tubuh yang bisa dilihat kondisinya. Termasuk kondisi bibir dan jari-jari.

“Kalau ada pasien-pasien COVID-19 yang diisolasi mandiri dengan gejala, semakin lemah misalnya tetapi tidak sesak, tetapi gejalanya semakin lemah, barangkali bisa juga dilihat bibir atau jari-jarinya kebiruan segera dibawa ke rumah sakit, karena di rumah sakit akan diberikan terapi oksigen,” jelas dr Erlina.

Namun, untuk kasus secara umum yang terjadi di Indonesia terkait dengan happy hypoxia, dr Agus menjelaskan belum mendapat laporan terkait hal tersebut. Hal yang pasti, perlu adanya kewaspadaan dan kehati-hatian akan gejala happy hypoxia pada pasien COVID-19.

Sumber berita: https://health.detik.com/…/di-indonesia-happy-hypoxia-pada-…