5 Fakta Subvarian BA.4 dan BA.5, Karakteristik hingga Upaya Pencegahannya

#Liputanmedia

KOMPAS.com – Virus corona penyebab penyakit Covid-19 terus bermutasi dan memunculkan beragam varian baru yang memiliki karakteristik masing-masing. Terbaru, subvarian Omicron BA.4 da BA.5 diwaspadai di sejumlah negara dikarenakan membuat kenaikan kasus infeksi. Adapun di Indonesia, subvarian BA.4 dan BA.5 diprakirakan mencapai puncaknya pada pertengahan Juli 2022. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin.

Menurutnya, kenaikan kasus infeksi Covid-19 diprediksi terjadi selama pekan kedua dan ketiga bulan ini. Tapi, puncak gelombangnya diperkirakan tidak akan setinggi kasus yang diakibatkan varian sebelumnya. “Kalau Omicron mungkin butuh satu sampai satu setengah bulan untuk sampai ke puncak, ini (subvarian BA.4 dan BA.5) kurang dari satu bulan. Jadi udah sampai puncak, turun lagi. Itu sebabnya kenapa saya bilang minggu kedua minggu ketiga. Juli-lah puncaknya kita lihat angkanya di mana,” jelas Budi. Sementara itu, kasus pasien yang dirawat di rumah sakit hingga kematian juga tidak akan setinggi puncak gelombang Omicron atau Delta yang terjadi sebelum-sebelumnya.

Berikut rangkuman mengenai subvarian BA.4 dan BA.5:

1. Karakteristik BA.4 dan BA.5

Pakar dari Departemen Mikrobiologi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof dr Amin Soebandrio Sp.MK, PhD menyebutkan bahwa subvarian BA.4 dan BA.5 memiliki karakteristik yang mirip dengan keturunan Omicron sebelumnya. Varian Omicron mempunyai garis keturunan atau subvarian di antaranya BA.1, BA.2, dan BA.2.12.1, serta saat ini yang mulai mendominasi yaitu BA.4 dan BA.5. “Ada beberapa mutasi yang menyebabkan dia punya sifat istimewa, sebagian besar (karakteristik) BA.4 dan BA.5 mirip BA.2,” jelas Amin.

Meskipun mirip, dua subvarian terbaru ini berbeda dengan BA.2 dikarenakan mengandung mutasi yang terjadi pada varian Delta. Terdapat dua tambahan mutasi pada BA.4 dan BA.5 di posisi receptor binding domain (RBD), bagian yang melekat pada reseptor. Selain itu, dua subvarian ini mengandung substitusi asam amino L452R, yang terdeteksi pada varian Delta, dalam protein spike RBD. Sebagai tambahan informasi, subvarian Omicron BA.4 pertama kali ditemukan di daerah Limpopo, Afrika Selatan pada 10 Januari 2022. Sedangkan subvarian BA.5 ditemukan di KwaZulu-Natal, Afrika Selatan pada 25 Februari 2022.

2. Masa inkubasi varian Omicron

Penyebaran dari kedua subvarian ini begitu cepat dibandingkan strain Omicron asli, dikarenakan kemungkinan berhasil lolos dari antibodi vaksin atau riwayat infeksi sebelumnya.

Omicron memiliki masa inkubasi lebih cepat sekitar satu sampai tiga hari. Sehingga gejala yang muncul biasanya membutuhkan waktu satu hingga dua hari setelah terpapar virus.

Hal inilah yang juga membuat masa pemulihan lebih cepat. Subvarian BA.4 dan BA.5 cenderung menyebabkan gejala lebih ringan dibandingkan varian sebelumnya.

3. Gejala infeksi BA.4 dan BA.5

Beberapa gejala subvarian BA.4 yang paling banyak dikeluhkan di Indonesia sebagai berikut:

  • Batuk (38%)
  • Demam (29%)
  • Nyeri tenggorokan (24%)
  • Pilek dan flu (9%)

Sementara itu, gejala subvarian BA.5 yang paling banyak dikeluhkan meliputi:

  • Batuk (30%)
  • Demam (25%)
  • Pilek (19%)
  • Nyeri tenggorokan (14%)
  • Sakit kepala (6%)
  • Mual dan muntah (3%)
  • Sesak napas (2%)

Gejala berupa anosmia dan kehilangan bau menjadi gejala yang paling sedikit dikeluhkan.

4. Potensi gelombang baru

Sebelumnya, epidemiolog Griffith University Dicky Budiman menegaskan, peluang subvarian BA.4 dan BA.5 untuk menjadi gelombang baru tetap ada.
Pelonggaran yang berlebihan dan tidak terukur, termasuk pengabaian protokol kesehatan berperan serta dalam penyebaran dua subvarian ini. Meskipun keparahan dari kasus-kasus yang dilaporkan tidak terlihat lebih menonjol karena modal imunitas masyarakat lebih baik, infeksi pada orang yang belum memiliki imunitas bisa menjadi serius.

Jumlah virus dari kedua subvarian lebih banyak terdeteksi di hidung dibandingkan tenggorokan. Subvarian BA.4 dan BA.5 memiliki kemampuan infeksi ulang atau tingkat reinfeksi yang tinggi.

5. Upaya Kemenkes

Menghadapi potensi lonjakan kasus, Kemenkes telah mempersiapkan peningkatan telemedisin yang telah menjangkau 13 area di seluurh Indonesia. Masyarakat diimbau agar tidak terlalu panik dan selalu waspada dalam menghadapi subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 di Tanah Air. Selain itu, tetap diminta untuk menggunakan masker di tempat ramai, transportasi umum, di dalam ruangan, serta saat memiliki gejala flu atau batuk.

sumber berita: https://www.kompas.com/sains/read/2022/07/01/193100923/5-fakta-subvarian-ba.4-dan-ba.5-karakteristik-hingga-upaya-pencegahannya?page=3