Sosok Prof Poorwo Soedarmo, Tokoh Penting dari Peringatan Hari Gizi Nasional

#Liputanmedia

Liputan6.com, Jakarta – Setiap 25 Januari diperingati sebagai Hari Gizi Nasional (HGN). Peringatan itu digelar untuk memperbaiki status gizi sekaligus derajat kesehatan masyarakat Indonesia, terutama pasca-perang kemerdekaan. Tahukah Anda siapa tokoh penting di balik peringatan tersebut?

Adalah Prof. Poorwo Soedarmo, sosok Bapak Gizi Nasional Indonesia yang merintisnya sejak 1950. Ia diangkat mantan Menteri Kesehatan dr. J. Leimena sebagai Kepala Lembaga Makanan Rakyat, atau dulunya dikenal sebagai Instituut Voor Volksvoeding (IVV).

Dikutip dari laman sehatnegeriku.kemkes.go.id, profesor asal Malang kelahiran 20 Februari 1904 itu merupakan lulusan sekolah kedokteran School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) pada 1927. Ia mempelajari ilmu gizi dari berbagai kampus, mulai dari Filipina, London, hingga Amerika Serikat, termasuk mengikuti perkuliahan di Harvard University dan Columbia University.

Ia diangkat sebagai guru besar ilmu gizi pertama di Universitas Indonesia pada 1958. Tepat pada tahun itu juga FKUI membuka jurusan Ilmu Gizi. Jurusan itu berhasil mencetak ribuan ahli gizi di Indonesia.

Banyak karya ilmiah yang ditelurkan oleh pendiri Akademi Gizi itu. Salah satunya adalah Home Economics yang saat ini dikenal sebagai Ilmu Kesejahteraan Keluarga. Ia juga yang menggagas konsep empat sehat, lima sempurna untuk memenuhi gizi seimbang.

Pada 1969, Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) mengangkatnya Prof Soedarmo sebagai Bapak Gizi Indonesia. Atas jasanya membantu memperbaiki gizi masyarakat Indonesia, ia diberikan penghargaan Bintang Mahaputra Utama pada 1992. Ia meninggal dunia pada 13 Maret 2022 dan jenazahnya dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Awal Mula Hari Gizi

Hari Gizi Nasional (HGN) diselenggarakan untuk memperingati dimulainya pengkaderan tenaga gizi Indonesia dengan berdirinya Sekolah Juru Penerang Makanan oleh LMR pada 25 Januari 1951. Sejak saat itu, pendidikan tenaga gizi berkembang di banyak perguruan tinggi di Indonesia.

Hari Gizi Nasional pertama kali diadakan oleh LMR pada pertengahan 1960an. Peringatan itu dilanjutkan oleh Direktorat Gizi Masyarakat sejak tahun 1970-an hingga sekarang. Peringatan HGN, menurut Kementerian Kesehatan, merupakan momentum penting dalam menggalang kepedulian dan meningkatkan komitmen dari berbagai pihak untuk bersama membangun gizi menuju bangsa sehat berprestasi melalui gizi seimbang dan produksi pangan berkelanjutan.

Masalah gizi di Indonesia saat ini masih didominasi oleh gizi kurang dan stunting, meski angkanya cenderung menurun. Berdasarkan Riskesdas 2013-2018, prevalensi gizi kurang dan stunting menurun berturut-turut dari 19.6% menjadi 17.7% dan dari 37.2% menjadi 30.8%, masih di atas ambang batas yang ditetapkan WHO.

“Ke depan, Indonesia akan menghadapi tantangan masalah gizi lebih dan obesitas serta penyakit tidak menular yang cenderung meningkat,” kata Dirjen Kesehatan Masyarakat dr. Kirana Pritasari, MQIH, dalam laporannya pada acara workshop Peringatan Hari Gizi Nasional ke-59, di Kantor Kemenkes Jakarta, pada 25 Januari 2019.

Preventif dan Promotif

Pemerintah menilai perbaikan gizi masyarakat Indonesia memerlukan intervensi sensitif dan kerja sama lintas sektor. Intervensi yang dilakukan oleh sektor kesehatan tidak akan maksimal tanpa dukungan intervensi gizi yang dilakukan oleh sektor non-kesehatan, seperti peningkatan produksi pertanian untuk mendukung ketahanan pangan dan gizi di rumah tangga.

Selain itu, masyarakat juga memerlukan program pengentasan kemiskinan, penyediaan air bersih dan sanitasi, dan program pemberdayaan perempuan untuk mendukung keberhasilan perbaikan gizi masyarakat. Terlebih, pembangunan kesehatan ke depan lebih difokuskan pada upaya preventif dan promotif.

Sementara, tema peringatan HGN 2022 kali ini mengangkat soal Aksi Bersama Cegah Stunting dan Obesitas di Indonesia. Stunting masih menjadi permasalahan yang belum selesai di Indonesia. Direktur Gizi Masyarakat Kemenkes, Dr. Dhian Probhoyekti mengatakan permasalahan gizi tidak hanya terjadi di Indonesia tapi di dunia.

Berdasarkan survei Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021, prevalensi stunting di Indonesia sebesar 24,4 persen. Angka ini masih jauh dari angka prevalensi yang ditargetkan dalam rpjmn 2020-2024, yakni 14 persen.

Sumber berita: https://www.liputan6.com/…/sosok-prof-poorwo-soedarmo…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *