Info FKUIUncategorized

Kenapa Penyakit Asam Lambung GERD Muncul saat Pandemi? Ini Kata Dekan FKUI

#LiputanMedia

Jakarta – Apakah kamu pernah merasa panas dada seperti terbakar dan mulut terasa pahit? Dua situasi ini merupakan gejala dari gastroesophageal reflux disease atau penyakit GERD, lho.GERD adalah kondisi yang berkembang ketika ada arus balik isi lambung ke esofagus. GERD yang lebih berat dapat menyebabkan inflamasi pada esofagus (esophagitis), seperti dikutip dari buku Gastroesophageal Reflux Disease oleh Catiele Antunes, Abdul Aleem, dan Sean A. Curtis.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI), Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH., MMB mengatakan, GERD merupakan gejala yang mengganggu dan atau terjadinya komplikasi akibat dari balik arahnya isi lambung tersebut. Ia menjelaskan, asam lambung naik saat GERD juga menyebabkan gigi terasa ngilu, telinga berdengung, hidung tersumbat karena pilek, suara serak, dan batuk.

Ari mengatakan, gangguan penyakit dalam seperti GERD dapat muncul selama pandemi COVID-19 karena terbatasnya aktivitas fisik individu selama work from home (WFH) atau belajar dari rumah, ditambah konsumsi cemilan yang tidak terkontrol.

Ia menambahkan, kondisi stres individu akibat tidak bisa beraktivitas seperti semula dan rasa takut terinfeksi Covid-19 dapat menyebabkan penyakit diabetes, asam urat, hipertensi, kolesterol, dan asam lambung seperti GERD ini.

Ia menjelaskan, pada dasarnya, laki-laki, obesitas, dan merokok merupakan karakter orang dengan risiko tinggi untuk mengalami GERD. Sementara itu, lanjutnya, masyarakat pada umumnya kini mengalami kecenderungan peningkatan penyakit akibat asam lambung atau GERD karena pola makan dan perubahan gaya hidup.

Ari mengatakan, orang yang mengalami penyakit asam lambung GERD berisiko mengalami gangguan pola tidur.

“Dari survei yang kami lakukan pada 2020, terdapat 41% lebih rendah proporsi pasien tanpa gangguan tidur, dan 7,7% lebih rendah pasien mengalami gangguan tidur seharian pada bulan April-Juni dibandingkan dengan Januari-Maret,” jelasnya dalam diskusi virtual, Sabtu (19/6).

“Selain itu, sekitar 43,5% pasien mengalami gangguan tidur selama 2-3 hari, dan proporsi pasien dengan gangguan tidur malam 4-7 hari lebih tinggi pada bulan April-Juni dibandingkan dengan Januari-Maret akibat GERD”, imbuhnya.

Ari mengatakan, sekitar 27,4% dari dokter yang ia survei mengalami GERD. Hal ini berhubungan dengan faktor umur yaitu lebih dari 50 tahun, BMI lebih dari 30 kg/m2, dan perokok. Ia menambahkan, faktor lainnya yang menyebabkan penyakit asam lambung GERD yaitu terlalu banyak makan daging, kurang makan ikan, dan sering makan asin.

Ia menganjurkan, terutama saat pandemi COVID-19, jaga pola makan teratur, kontrol diri agar tidak stres, berhenti merokok, hindari pakaian ketat, dan atur jam istirahat tidur sebagai cara mencegah GERD.

Sementara jika kamu atau teman mengalami gejala seperti GERD, kamu bisa mendeteksi GERD lewat aplikasi deteksi GERD seperti GerdQ. Aplikasi yang dirancang Ari ini berisikan kuesioner yang bisa kamu isi dalam pengawasan dokter untuk untuk identifikasi dan manajemen pasien dengan GERD.

Nah, sudah tahu ya detikers cara mencegah GERD atau penyakit asam lambung agar tidak menyerang sepanjang pandemi? Sehat selalu, ya!