News

UI Kukuhkan Erni H.Purwaningsih Sebagai Guru Besar

Prof. Dr. dr. Erni Herawati Purwaningsih, MS


Dasar kompetensi yang wajib diajarkan Ilmu Farmasi Kedokteran adalah kemampuan memilih obat yang tepat, dosis yang tepat, bentuk sediaan dan cara pemberian obat yang tepat untuk penderita yang tepat. Ilmu Farmasi Kedokteran, lebih menekankan pada bagaimana caranya seorang dokter mampu mengaplikasikan ilmu yang di pelajari baik dari farmakologi atau ilmu biomedik lain serta ilmu klinik sebagai prasyarat, sehingga memiliki kemampuan yang baik dalam menuliskan resep yang rasional. Inilah yang membedakannya dengan Ilmu Farmakologi, dalam bidang Ilmu Farmakologi penekanan ilmu lebih pada farmakodinamik dan farmakokinetik obat.

Perubahan metode pembelajaran yang bersifat student center dalam bentuk modul-modul pada pendidikan dokter yang menggunakan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) menyebabkan berkurangnya jam pembelajaran secara terstruktur bagi mahasiswa, untuk itu penguasaan materi Ilmu Farmasi Kedokteran dilakukan secara tidak langsung melalui riset, baik in Vitro maupun in Vivo, antara lain tentang pengenalan dan pembuatan bentuk sediaan obat, perhitungan dosis, interaksi obat dan pemberian obat. Selain baik untuk mahasiswa, pendekatan riset ini juga membuat staf pengajar termotivasi untuk meningkatkan kompetensinya dalam menyusun dan membimbing proposal, melaksanakan riset bersama mahasiswa, hingga mengevaluasi hasil riset.

Melalui bidang penelitian, FKUI turut meningkatkan ilmu Farmasi Kedokteran dengan melakukan rancangan riset utama dalam perkembangan obat (drug development) berbasis Molekuler. Diharapkan dengan adanya riset ini, obat-obatan dapat berkembang dalam bentuk sediaan lain yang lebih terjangkau, aman tanpa efek samping atau dengan efek samping yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan sediaan yang sudah ada di pasaran. Lebih lanjut, kompentensi mahasiswa bidang ilmu Farmasi Kedokteran dapat ditingkatkan pula melalui bidang pengabdian masyarakat tentang pengelolaan obat, agar mahasiswa dapat diajarkan mengelola obat meliputi pengadaan, pengemasan, pembuatan, pendistribusian dan pencatatan obat.

Dan untuk perkembangan obat tradisional herbal Indonesia, Ilmu Farmasi Kedokteran memberikan peran yang sangat berarti. Perkembangan obat tradisional di FKUI sudah dikenalkan oleh Alm. Prof. dr. Sardjono O. Santoso dalam pidato pengukuhan Guru Besar beliau pada tahun 2004, hingga saat ini sekurang-kurangnya 30 mahasiswa Program Sarjana FKUI meniliti obat tradisional herbal Indonesia pada hewan coba. 20 diantaranya meneliti efek neuroproteksi dan neuroterapi ekstrak akar tanaman akar kucing (Acalypha indica. L.) untuk mengatasi masalah kelumpuhan akibat pemberian neurotoksin (pankuronium bromida) pada katak (Bufo melanostictus).  Efek tersebut perlu dikembangkan untuk kasus Myasthenia Gravis (gangguan autoimun) melalui pendekatan molekuler.

Penelitian terhadap ekstrak akar tanaman akar kucing kemudian dilanjutkan oleh dua mahasiswa Program Studi Ilmu Biomedik pada hewan coba dengan hipoksia yang menunjukkan hasil berupa perbaikan sel neuron hipokampus, baik sebagai neuroproteksi maupun neuroterapi. Kombinasi antara ekstrak akar tanaman akar kucing dengan pegagan (Centella asiatica L.) pada hewan hipokampus juga memberikan gambaran perbaikan pada sel neuron hipokampus.

Pada penelitian terakhir diatas, akan dilanjutkan penelitian pada beberapa organ sensitif hipoksia, selain otak, yaitu pada jantung dan ginjal dengan parameter perubahan pada Hypoxia-Inducible Factor (HIF) 1α secara molekular. Dalam penelitian tersebut, sebagian besar terjadi integrasi keilmuan antara Ilmu Farmasi Kedokteran dengan Fisika, Kimia, Biokimia, Farmakologi, Fisiologi, Ilmu Kesehatan Anak, Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, dan Patologi Anatomik FKUI serta antar fakultas baik di dalam atau di luar lingkungan Universitas Indonesia.

Paparan diatas merupakan bagian dari pidato yang disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Erni Herawati Purwaningsih, MS dengan judul “Peranan Ilmu Farmasi Kedokteran Dalam Menunjang Program Pengembangan Obat Berbasis Molekuler, Kajian Terhadap obat Konvensional dan Obat Tradisional Herbal Indonesia” saat upacara pengukuhan beliau sebagai Guru Besar Tetap dalam Ilmu Kedokteran Farmasi Kedokteran pada Fakultas Kedokteran Univeritas Indonesia, Sabtu (03/2) yang lalu. Upacara yang berlangsung di Aula FKUI tersebut dipimpin langsung oleh Pejabat Rektor UI Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso, M.Sc. Selain dihadiri oleh keluarga, sejawat, kolega, serta para Guru Besar di lingkungan Universitas Indonesia, hadir pula tamu-tamu dari universitas lain.

Prof. Erni Herawati Purwaningsih merupakan staf pengajar Departemen Ilmu Farmasi Kedokteran FKUI. Dokter kelahiran 16 Mei 1953 di Surabaya ini lulus menjadi dokter di FKUI tahun 1979. Kemudian berhasil menyelesaikan program pascasarjana dalam Ilmu Biomedik-FKUI tahun 1994. Pada tahun 2002, beliau berhasil menyandang gelar doktor dalam bidang Ilmu Biomedik di FKUI setelah mempertahankan disertasinya mengenai liposom sebagai pembawa obat metilprednisolon palmitat.

Selain aktif mengajar, Prof. Erni juga aktif di berbagai kegiatan organisasi baik profesi maupun sosial kemasyarakatan, beliau saat ini tercatat sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Farmasi Kedokteran Indonesia (PEFARDI), dan pernah menjadi Ketua Bidang Kajian Obat Tradisional, Komplementer – Alternatif PB IDI. Dan sejak tahun 2012, Prof. Erni juga dipercaya menjadi Wakil Ketua Komite Nasional Saintifikasi Jamu.

Dalam kesempatan yang sama hari itu, UI juga mengukuhkan seorang Guru Besar Tetap dari Fakultas Kedokteran Gigi, yaitu Prof. drg. Armasastram Bahar, Ph.D. Beliau menyampaikan pidato pengukuhannya yang berjudul “Paradigma Baru Pencegahan Karies Gigi dalam Menunjang Kemajuan Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan”.

Dengan bertambahnya jumlah Guru Besar Tetap di lingkungan UI, diharapkan dapat menstimulasi semangat civitas akademika UI lainnya untuk berperan aktif dalam memberikan kontribusi terbaiknya kepada almamater sehingga terlaksananya Tri Dharma Perguruang Tinggi. (Uti/Die)